Dan sering pula disebutkan dengan judul Adab Qadha ‘il Hajah atau al-Istithabah

DALIL-DALIL :

عَنْ سَلْمَانَ قَالَ قَالَ لَنَا الْمُشْرِكُونَ إِنِّي أَرَى صَاحِبَكُمْ يُعَلِّمُكُمْ حَتَّى يُعَلِّمَكُمْ الْخِرَاءَةَ فَقَالَ أَجَلْ إِنَّهُ نَهَانَا أَنْ يَسْتَنْجِيَ أَحَدُنَا بِيَمِينِهِ أَوْ يَسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةَ وَنَهَى عَنْ الرَّوْثِ وَالْعِظَامِ وَقَالَ لَا يَسْتَنْجِي أَحَدُكُمْ بِدُونِ ثَلَاثَةِ أَحْجَارٍ. (رواه مسلم)

dari Salman dia berkata, “Kaum musyrikin berkata kepada kami, ‘Sungguh, aku melihat sahabat kalian (Rasulullah) mengajarkan kepada kalian hingga masalah adab beristinja’, maka dia berkata, ‘Ya. Beliau melarang kami dari beristinja’ dengan tangan kanannya atau menghadap kiblat, dan beliau juga melarang dari beristinja’ dengan kotoran hewan dan tulang.’ Beliau bersabda: “Janganlah salah seorang dari kalian beristinja’ kurang dari tiga batu’.” (HR. Muslim (no.386), Ahmad (no.23191), at-Tirmidzi (no.16), Abu Dawud (no.7), an-Nasa’i (no.41), Ibnu Majah (no.316)),

dan dalam beberapa lafazhnya dengan tambahan:

قَالَ بَعْضُ الْمُشْرِكِينَ وَهُمْ يَسْتَهْزِئُونَ بِهِ إِنِّي لَأَرَى صَاحِبَكُمْ يُعَلِّمُكُمْ حَتَّى الْخِرَاءَةِ قَالَ سَلْمَانُ…. (رواه احمد)

ia berkata : Sebagian orang-orang musyrik berkata seraya mengolok-oloknya : Sesungguhnya aku mengetahui teman kalian mengajarkan cara buang air besar pada kalian. Berkata Salman : …. (al-Hadits)

perhatikanlah para pemuja berhala ini, betapa dada mereka terasa sesak, mereka mengatakan apa yang telah mereka katakan itu setelah mereka melihat dakwah Nabi, dan tidaklah dakwah beliau meninggalkan sedikitpun dari perkara dunia dan akhirat melainkan ilmunya telah diterangkan oleh beliau. Sebagaimana perkataan Abu Dzar :

لَقَدْ تَرَكَنَا مُحَمَّدٌ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَا يُحَرِّكُ طَائِرٌ جَنَاحَيْهِ فِي السَّمَاءِ إِلَّا أَذْكَرَنَا مِنْهُ عِلْمًا. (رواه احمد)

“Sungguh, Muhammad Shallalahu ‘Alaihi Wasallam telah meninggalkan kami, dan tidaklah seekor burung yang mengepakkan sayapnya di udara kecuali beliau telah menyebutkan kepada kami akan ilmunya.”

Di Antara Adab-Adab Buang Hajat

1. Menjauhi Tiga Tempat Yang Dilaknat

عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اتَّقُوا الْمَلَاعِنَ الثَّلَاثَةَ الْبَرَازَ فِي الْمَوَارِدِ وَقَارِعَةِ الطَّرِيقِ وَالظِّلِّ. (رواه أبو داود)

dari Mu’adz bin Jabal, dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Takutlah kalian terhadap tiga hal yang terlaknat; buang air besar di sumber air, tengah jalanan, dan tempat berteduh.” (HR. Abu Dawud (no.24), Syaikh al-Albani mengatakan : Hasan, dan Ibnu Majah (no.328)).

Dan dalam hadits Abu Hurairah disebutkan bahwa :

اتَّقُوا اللَّعَّانَيْنِ قَالُوا وَمَا اللَّعَّانَانِ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الَّذِي يَتَخَلَّى فِي طَرِيقِ النَّاسِ أَوْ فِي ظِلِّهِمْ. (رواه مسلم)

“Jauhilah kalian dari La’anaini.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, siapa La’anini itu?” Beliau menjawab: “Orang yang buang hajat di jalan manusia atau di tempat berteduhnya mereka.” (HR. Muslim (no.397), Ahmad (no.8636), at-Tirmidzi (no.16), dan Abu Dawud (no.25)).

Hadits Mu’adz secara terpisah menyebutkan al-Mawarid, dan apa yang dimaksud dengan al-maurud (bentuk tunggal dari al-mawarid) adalah tempat aliran air. (Lisanul ‘Arab (III/456), topik :warada. Yaitu tempat aliran dan jalan air, seperti dikatakan : warodatil ma’a jika airnya mengalir untuk dijadikan air minum. (’Aunul Ma’bud Syarh Sunan Abi Dawud (jilid I (I/31))).

Al-Khaththabi mengatakan : Dengan demikian, maka artinya hindarilah dua perkara yang pelakunya dilaknat, dan ini sesuai dengan riwayat Abu Dawud. Adapun dalam riwayat Muslim, maka maknanya hindarilah perbuatan yang menjadi sebab munculnya laknat, yaitu pelakunya mendapat laknat, yaitu dua sifat yang jika dilakukan biasanya orang-orang akan melaknat pelakunya. (Syarh Muslim karya an-Nawawi (jilid II (III/132))).

Dan sebab dilarangnya buang hajat di tempat-tempat yang tiga ini karena akan mengotori ketiga tempat tersebut dan menjadikannya najis dengan kotoran yang ada, serta akan mengganggu kaum mukminin. Sedangkan mengganggu mereka adalah perbuatan yang diharamkan berdasarkan dengan nash al-Qur’an. Allah Ta’ala berfirman :

وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُّبِينًا

Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mu’min dan mu’minat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata. (Al-Ahdzab : 58).

Faidah : Hal yang termasuk tempat bernaung adalah tempat yang biasa digunakan orang-orang untuk berjemur di bawah terik matahari di musim panas. Syaikh Ibnu ‘Utsaimin mengatakan : Ini adalah kiasan yang jelas. (asy-Syarhul Mumti ‘ala Zadil Mustaqni’ (I/102), Daar Aasaam, cet.II, th.1414H).

Al-baraaz adalah sebuah nama untuk padang yang luas di muka bumi ini, dan orang-orang mengkonotasikannya dengan hajat (kotoran) manusia. Dikatakan, Tabarrazar rajulu, ‘Apabila ia buang hajat besar. Walau pun kalimat itu ditujukan untuk buang air besar, akan tetapi buang air kecil pun juga termasuk ke dalamnya. (lihat Syarh Muslim (jilid II (III/132), ‘Aunul Ma’bud (jilid I/30-31)).

Masalah : Telah shahih bahwa Nabi menggunakan penutup (penghalang) ketika buang hajat di balik rimbunan pohon kurma, sementara rimbunan pohon kurma memiliki naungan (baying-bayang), maka bagaimana menyelaraskan antara perbuatan beliau dengan larangan melalui sabda beliau??

Jawab : Tempat bernaung yang tidak boleh digunakan untuk buang hajat adalah tempat bernaung yang orang-orang biasa berkumpul dan duduk di bawahnya, dan mereka menjadikannya sebagai tempat berteduh. Adapun apa yang dilakukan oleh Nabi, maka difahami bahwa tempat naungan ini bukan tempat yang diinginkan dan bukan pula tempat yang disukai untuk berkumpul dan duduk di bawahnya.

2. Larangan Kencing Di Air Yang Tergenang

Sebab larangan ini sangatlah jelas, bahwa kencing di air yang tergenang akan sangat memungkinkan air tersebut menjadi najis. Terlebih lagi dengan buang hajat besar di air yang tergenang, hal itu jauh lebih buruk dan lebih utama untuk dilarang. Dapat difahami pula bahwa hukum larangan ini tidak berlaku pada air yang mengalir. Imam an-Nawawi berkata : Apabila air itu dalam jumlah yang banyak dan mengalir, maka kencing di air tersebut tidak diharamkan. (Syarh Muslim (jilid I (II/152)), dan para ulama merinci seputar masalah ini, namun saya tidak ingin berpanjang lebar mengulasnya. Lihat Syarh Muslim karya Imam an-Nawawi dan Syarh al-Bukhari karya Ibnu Hajar (I/413-414)).

3. Dimakruhkan Masuk Ke Tempat Buang Hajat Dengan Memakai Sesuatu Yang Padanya Tertulis Nama Allah

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin mengatakan dalam syarh beliau : Perkataan kecuali karena suatu keperluan, adalah pengecualian dari hukum makruh, yaitu jika ia harus membawa masuk ke dalam toilet itu, seperti uang kertas yang padanya tertulis nama Allah, karena jika kami mengatakan agar seseorang tidak memasukkannya lalu ia mengeluarkannya dan meletakkannya di depan pintu toilet, maka ia akan lupa kepada uang tersebut. Dan jika letaknya di tempat yang terbuka, maka sangat memungkinkan sekali uang itu tertiup angina. Juga apabila berada di tempat orang banyak, maka mungkin saja uang itu akan dicuri. (Asy-Syarhul Mumti’ ‘ala Zadil Mustaqni’ (I/91)).

Adapun mushaf al-Qur’an, maka sudah tidak diragukan lagi keharaman memasukkannya ke dalam tempat buang hajat, dan ini adalah pendapat para ulama. Hanya saja mereka membolehkan memasukkannya ke dalam toilet apabila khawatir dicuri. Namun walaupun begitu, seorang muslim hendaknya takut kepada Allah, Rabb-nya dan tidak membiarkan Kalamullah direndahkan. Wajib baginya menjaganya sesuai dengan kemampuannya, seperti menitipkan mushaf itu kepada seseorang hingga ia keluar dari toilet, atau dengan cara-cara lainnya. Akan tetapi jika tidak ada, maka Allah tidak akan membebani seseorang di luar kemampuannya. (Lihat asy-Syarhul Mumti’ (I/91)).

4. Larangan Menghadap Dan Membelakangi Kiblat

Dalam pembahasan ini terdapat beberapa hadits di antaranya hadits yang diriwayatkan :

عَنْ أَبِي أَيُّوبَ الْأَنْصَارِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَتَى أَحَدُكُمْ الْغَائِطَ فَلَا يَسْتَقْبِل الْقِبْلَةَ وَلَا يُوَلِّهَا ظَهْرَهُ شَرِّقُوا أَوْ غَرِّبُوا. (رواه البخاري)

dari Abu Ayyub Al Anshari berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika salah seorang dari kalian masuk ke dalam WC untuk buang hajat, maka janganlah menghadap ke arah kiblat membelakanginya. Hendaklah ia menghadap ke arah timurnya atau baratnya.”

Dalam riwayat Muslim dan selainnya dengan lafazh :

ا….فَلَا تَسْتَقْبِلُوا الْقِبْلَةَ وَلَا تَسْتَدْبِرُوهَا بِبَوْلٍ وَلَا غَائِطٍ وَلَكِنْ شَرِّقُوا أَوْ غَرِّبُوا. (رواه مسلم)

…. janganlah kalian menghadap kiblat dan jangan pula membelakanginya; saat buang air besar atau buang air kecil, tetapi menghadaplah ke timur atau ke barat.’ (HR.Al-Bukhari (no.141), dan lafazh diatas adalah lafazh riwayat beliau, Muslim (no.388), Ahmad (no.23003), Abu Dawud (no.9), an-Nasa’i (no.21) dan Ibnu Majah (no.318)).

Di antaranya pula adalah hadits Ibnu Umar :

عَنْ وَاسِعِ بْنِ حَبَّانَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ أَنَّهُ كَانَ يَقُولُ إِنَّ نَاسًا يَقُولُونَ إِذَا قَعَدْتَ عَلَى حَاجَتِكَ فَلَا تَسْتَقْبِلْ الْقِبْلَةَ وَلَا بَيْتَ الْمَقْدِسِ فَقَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ لَقَدْ ارْتَقَيْتُ يَوْمًا عَلَى ظَهْرِ بَيْتٍ لَنَا فَرَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى لَبِنَتَيْنِ مُسْتَقْبِلًا بَيْتَ الْمَقْدِسِ لِحَاجَتِهِ….. (رواه البخاري)

dari pamannya Wasi’ bin Hibban dari ‘Abdullah bin ‘Umar bahwa ia berkata, “Orang-orang berkata, “Jika kamu menunaikan hajatmu maka janganlah menghadap kiblat atau menghadap ke arah Baitul Maqdis.” ‘Abdullah bin ‘Umar lalu berkata, “Pada suatu hari aku pernah naik atap rumah milik kami, lalu aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam buang hajat menghadap Baitul Maqdis di antara dua dinding….. (HR.Al-Bukhari (no.142), dan lafazh diatas adalah lafazh riwayat beliau, Muslim (no.266), Ahmad (no.4592), an-Nasa’i (no.23), Abu Dawud (no.12), Ibnu Majah (no.322), Malik (no.455) dan ad-Darimi (no.667)).

عَنْ مَرْوَانَ الْأَصْفَرِ قَالَ رَأَيْتُ ابْنَ عُمَرَ أَنَاخَ رَاحِلَتَهُ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ ثُمَّ جَلَسَ يَبُولُ إِلَيْهَا فَقُلْتُ يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَلَيْسَ قَدْ نُهِيَ عَنْ هَذَا قَالَ بَلَى إِنَّمَا نُهِيَ عَنْ ذَلِكَ فِي الْفَضَاءِ فَإِذَا كَانَ بَيْنَكَ وَبَيْنَ الْقِبْلَةِ شَيْءٌ يَسْتُرُكَ فَلَا بَأْسَ. (رواه أبو داود)

dari Marwan Al Ashfar dia berkata; Saya pernah melihat Ibnu Umar menderumkan untanya menghadap kiblat, lalu dia duduk dan buang air kecil dalam keadaan menghadapnya, lalu saya bertanya; “wahai Abu Abdurrahman, bukankah hal ini telah dilarang?” Dia menjawab; “Benar, akan tetapi hal itu dilarang jika dilakukan di tempat terbuka, apabila antara dirimu dan kiblat ada sesuatu yang menutupimu, maka itu tidaklah mengapa.” (HR. Abu Dawud (no.10)).

Hadits Salman berisi larangan menghadap ke arah kiblat secara mutlak, baik di dalam ruangan atau di tempat lainnya.

Hadits Jabir menunjukkan bahwa akhir perkara Nabi adalah pembolehan menghadap ke arah kiblat.

Madzhab para ulama dalam masalah ini sangatlah banyak, mereka mengikuti zhahir nash-nash yang saling bertentangan, akan tetapi menyelaraskan hadits-hadits tersebut merupakan suatu hal yang sangat memungkinkan.

Imam an-Nawawi mengatakan : Dan tidak ada perbedaaan dikalangan ulama bahwa apabila memungkinkan menyelaraskan hadits-hadits tersebut maka sebagian hadits-hadits tersebut tidak harus ditinggalkan, melainkan wajib menyelaraskan dan mengamalkan semua hadits tersebut. (Syarh Muslim (jilid II(II/126)).

Dan pendapat yang kami pilih adalah haramnya menghadap ke arah kiblat dan membelakanginya ketika berada di padang terbuka, namun hal itu dibolehkan ketika berada di ruangan tertutup atau ketika ada penghalang antara seseorang yang buang hajat dengan kiblat, baik ia menghadap ke arah kiblat maupun membelakanginya. Dan inilah pendapat yang dikuatkan oleh Lajnah Da’imah. (Lihat al-Fatwa (no.4480)(V/97-99)).

5. Bacaan Ketika Masuk Dan Keluar Dari Toilet (Wc)

Diriwayatkan dari :

عَنْ زَيْدِ بْنِ أَرْقَمَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ هَذِهِ الْحُشُوشَ مُحْتَضَرَةٌ…. (رواه أبو داود)

dari Zaid bin Arqam dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Sesungguhnya pohon-pohon kurma yang menyemak ini adalah tempat hadirnya syetan…. (HR. Abu Dawud (no.5), Syaikh al-Albani menshahihkannya, Ahmad (no.18800) dan Ibnu Majah (no.296)).

Seseorang yang masuk ke tempat buang hajat hendaknya mendahulukan kaki kirinya. Syaikhul Islam mengatakan : Kaedah syar’i telah menetapkan bahwa setiap perbuatan yang mana anggota tubuh bagian kanan dan kiri bersamaan dalam pengerjaannya, maka hendaklah bagian kanan didahulukan jika perbuatan tersebut adalah sesuatu yang mulia, seperti wudhu’, mandi, bersiwak, mencabut bulu ketiak, mengenakan pakaian, memakai sandal, menyisir rambut, masuk ke dalam masjid dan rumah, keluar dari tempat buang hajat dan lain sebagainya. Dan kaki kiri didahulukan untuk perbuatan sebaliknya, seperti masuk ke tempat buang hajat, melepas sandal, dan keluar dari masjid. (Al-Fatawa (XXI/108-109)).

Dan disunnahkan ketika seseorang hendak masuk ke tempat buang hajat untuk mengucapkan “Bismillah”, berdasarkan hadits yang diriwayatkan :

عَنْ عَلِيٍّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سِتْرُ مَا بَيْنَ الْجِنِّ وَعَوْرَاتِ بَنِي آدَمَ إِذَا دَخَلَ الْكَنِيفَ أَنْ يَقُولَ بِسْمِ اللَّهِ. (رواه ابن ماجة)

dari Ali, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Penghalang antara jin dan aurat anak Adam adalah mengucapkan ‘bismillah’ ketika ingin masuk ke kamar mandi.” (HR. Ibnu Majah (no.293), Syaikh al-Albani menshahihkannya (no.245). lihat Irwa’ul Ghalil (no.50) dan diriwayatkan pula oleh at-Tirmidzi (no.606)).

Dan disunnahkan membaca :

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ الْخُبُثِ وَالْخَبَائِثِ. (رواه أحمد)

aku berlindung pada-Mu dari syetan laki-laki dan syetan perempuan.

(Syaikh Ibnu Utsaimin mengatakan : Al-Khubts dalam riwayat dengan menggunakan sukun berarti setiap bentuk keburukan, dan al-khaba’its adalah jiwa yang keji. Sedangkan al-Khubuts dalam riwayat dengan menggunakan dhammah berarti kaum laki-laki dari bangsa syetan, dan al-khaba’its yang bentuk tunggalnya al-khabitsah, maka yang dimaksud adalah kaum wanita dari bangsa syetan. Riwayat dengan sukun maknanya lebih umum. Dan lafazh inilah yang paling banyak diriwayatkan oleh para masyayikh sebagaimana yang dikatakan oleh al-Khaththabi v. (Asy-Syarhul Mumti’ (I/82-83))).

عَنْ عَبْدِ الْعَزِيزِ بْنِ صُهَيْبٍ قَالَ سَمِعْتُ أَنَسًا يَقُولُ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ الْخَلَاءَ قَالَ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْخُبُثِ….. (رواه البخاري)

dari Abdul ‘Aziz bin Shuhaib berkata, aku mendengar Anas berkata, “Jika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam masuk ke dalam WC, maka beliau berdo’a: ALLAHUMMA INNI A’UUDZU BIKA MINAL KHUBUTSI WAL KHBA`ITS (Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari setan laki-laki dan setan perempuan) ‘.…..

وَقَالَ سَعِيدُ بْنُ زَيْدٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَدْخُلَ. (رواه البخاري)

al-Bukhari mengatakan : dan Sa’id bin Zaid mengatakan : Apabila beliau hendak masuk.

(HR.Al-Bukhari (no.139), Muslim (no.375), Ahmad (no.11536),at-Tirmidzi (no.5), an-Nasa’i (no.19), Abu Dawud (no.4), Ibnu Majah (no.296), dan ad-Darimi (no.669).

Sedangkan perkataan al-Bukhari : dan Sa’id bin Zaid mengatakan…. Sampai akhir hadits, diriwayatkan oleh beliau sendiri secara maushul dalam al-Adabul Mufrad. Lihat Fat-hul Bari (I/294).

Ucapan : (Apabila beliau hendak masuk), memberikan faidah bahwa doa ini diucapkan sebelum seseorang masuk ke kamar mandi, bukan setelahnya.

Dan setelah keluar dari tempat buang hajat hendaklah seseorang mengucapkan : Gufraanaka.

Diriwayatkan :

عَنْ عَائِشَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا خَرَجَ مِنْ الْغَائِطِ قَالَ غُفْرَانَكَ. (رواه أبو داود)

dari Aisyah radliallahu ‘anha bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam apabila keluar dari WC, beliau mengucapkan: “GHUFRAANAKA (Aku mohon ampunanMu).” (HR. Abu Dawud (no.28), dan Syaikh al-Albani menshahihkannya, Ahmad (no.24694), at-Tirmidzi (no.7) dan Ibnu Majah (no.300)).

Faidah : Adab ini tidak terbatas hanya pada tempat-tempat yang digunakan untuk buang hajat saja,akan tetapi diterapkan hingga di padang pasir sekalipun. Apabila seseorang yang akan buang hajat sudah mendekati tempat yang ia pilih untuk menunaikan hajatnya atau ia akan duduk maka hendaklah ia membaca do’a masuk, dan setelah selesai hendaklah ia membaca doa keluar. Imam an-Nawawi berkata : Adan ini adalah kumpulan sunnah-sunnah, dan tidak ada perbedaan antara bangunan dan padang pasir. (Syarh Muslim (jilid II (IV/60)).

6. Menutup Diri Ketika Buang Hajat

عَنْ مُغِيرَةَ بْنِ شُعْبَةَ قَالَ كُنْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَفَرٍ فَقَالَ يَا مُغِيرَةُ خُذْ الْإِدَاوَةَ فَأَخَذْتُهَا فَانْطَلَقَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى تَوَارَى عَنِّي فَقَضَى حَاجَتَهُ وَعَلَيْهِ جُبَّةٌ شَأْمِيَّةٌ… (رواه البخاري)

dari Mughirah bin Syu’bah berkata, “Aku pernah bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam suatu perjalanan, beliau bersabda: “Wahai Mughirah, ambilkan segayung air.” Aku lalu mencarikan air untuk beliau, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pergi manjuah hingga tidak terlihat olehku untuk buang hajat. Saat itu beliau mengenakan jubah lebar,….

Dan dalam riwayat Muslim :

فَمَشَى حَتَّى تَوَارَى فِي سَوَادِ اللَّيْلِ… (رواه مسلم)

lalu berjalan hingga tersembunyi dalam gelapnya malam,

Dan dalam riwayat Ahmad :

فَانْطَلَقْنَا حَتَّى بَرَزْنَا عَنْ النَّاسِ فَنَزَلَ عَنْ رَاحِلَتِهِ ثُمَّ انْطَلَقَ فَتَغَيَّبَ عَنِّي حَتَّى مَا أَرَاهُ… (رواه أحمد)

Kami terus berjalan hingga kami tidak nampak dari orang-orang. Beliau pun turun dari untanya kemudian berjalan dan hilang dari pandanganku…. (HR.Al-Bukhari (no.350), Muslim (no.408), Ahmad (no.17432), an-Nasa’i (no.82), Abu Dawud (no.151), Ibnu Majah (no.545), Malik (no.73) dan ad-Darimi (no.713).

Dan juga dari :

عَنْ الْمُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا ذَهَبَ الْمَذْهَبَ أَبْعَدَ. (رواه أبو داود)

dari Al Mughirah bin Syu’bah bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam apabila hendak pergi untuk buang hajat, maka beliau menjauh. (HR. Abu Dawud (no.1),Syaikh al-Albani mengatakan Hasan Shahih, an-Nasa’i (no.17), Ibnu Majah (no.331), dan ad-Darimi (no.660)).

{ Al- Kisa’i mengatakan : Tempat buang hajat dinamakan al-khalaa’, al-madzhab, al-marfaq, dan al-marhadh (Lisanul ‘Arab (I/394), topik : ذَهَبَ}.

Imam an-Nawawi berkata : Apa yang dapat difahami dari hadits ini di antaranya disunnahkannya menutupi diri ketika menunaikan hajat, baik dengan dinding pohon kurma, rimbunan pohon, atau lempengan (celah) tanah yang agak turun (rendah) dan selainnya, di mana ia tidak terlihat oleh orang lain. Dan ini adalah Sunnah mu’alladah(yang sangat ditekankan), (Syarh Muslim (jilid II (IV/30)).

Bersambung ke poin no.7-12.

Digubah dan diringkas secara bebas oleh ustadz Abu Nida Chomsaha Shofwan, Lc., dari buku Kitabul ‘Adab karya Fuad bin Abdil Aziz asy-Syalhub.