7. Kencing Sambil Berdiri Dan Jongkok

Asal mula posisi ketika kencing adalah jongkok. Diriwayatkan dari :

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ مَنْ حَدَّثَكُمْ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَالَ قَائِمًا فَلَا تُصَدِّقُوهُ مَا كَانَ يَبُولُ إِلَّا جَالِسًا. (رواه النسائي)

dari Aisyah dia berkata: “Barangsiapa mengabarkan kepadamu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam buang air kecil sambil berdiri, jangan kamu mempercayainya, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak buang air kecil kecuali sambil duduk.” (HR. an-Nasa’i (no.29), dan Syaikh al-Albani menshahihkannya, at-Tirmidzi (no.12), Ibnu Majah (no.307)).

Diriwayatkan dari :

 عَنْ حُذَيْفَةَ قَالَ رَأَيْتُنِي أَنَا وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَتَمَاشَى فَأَتَى سُبَاطَةَ قَوْمٍ خَلْفَ حَائِطٍ فَقَامَ كَمَا يَقُومُ أَحَدُكُمْ فَبَالَ فَانْتَبَذْتُ مِنْهُ فَأَشَارَ إِلَيَّ فَجِئْتُهُ فَقُمْتُ عِنْدَ عَقِبِهِ حَتَّى فَرَغَ. (رواه البخاري)

dari Hudzaifah berkata, “Aku berjalan-jalan bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau lalu mendatangi subathah (tempat pembuangan sampah) suatu kaum di balik tembok dan kencing sambil berdiri sebagaimana kalian berdiri. Aku lalu menjauh dari beliau, namun beliau memberi isyarat kepadaku agar mendekat, maka aku pun mendekat dan berdiri di belakangnya hingga beliau selesai.” (HR.Al-Bukhari (no.218), Muslim (no.42738), Ahmad (no.22730), at-Tirmidzi (no.13), an-Nasa’i (no.18), Abu Dawud (no.23), Ibnu Majah (no.305), Malik (no.73) dan ad-Darimi (no.668)).

subathah (tempat pembuangan sampah) : {As-Subathah adalah al-kunasah…., yaitu tempat orang-orang membuang tanah, kotoran dan sesuatu yang disapu dari dalam rumah. (Lisanul ‘Arab (VII/309)), topik : سبط }.

Dan hadits Hudzaifah tidaklah bertentangan dengan perkataan ‘Aisyah. Perkataan ‘Aisyah dapat difahami sebagai kebiasaan yang paling sering dilakukan oleh Rasulullah. Kami katakan demikian karena telah shahih diriwayatkan bahwa beliau kencing sambil berdiri. Dan para ulama memahami bahwa Nabi kencing sambil beridir untuk menerangkan kebolehannya, atau hal tersebut beliau lakukan di tempat yang tidak memungkinkan beliau kencing sambil duduk.

Faidah : dibolehkannya kencing sambil berdiri haruslah memenuhi dua syarat :

  1. Aman dari terkena percikan najisnya.
  2. Aman dari pandangan orang lain, sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikh ‘Utsaimin. (Asy-Syarhul Mumti’ (I/92)).

Masalah : Apakah boleh kencing sambil berdiri tanpa adanya hajat (keperluan)??

Jawab : Lajnah da’imah berpendapat, jika seseorang kencing sambil berdiri maka ia tidak berdosa, akan tetapi ia telah menyelisihi tata cara membuang hajat yang paling utama dan paling banyak dilakukan oleh Nabi. (V/89-90)(no.4213).

8. Larangan Menggunakan Tangan Kanan Ketika Buang Hajat

عَنْ أَبِي قَتَادَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا بَالَ أَحَدُكُمْ فَلَا يَأْخُذَنَّ ذَكَرَهُ بِيَمِينِهِ وَلَا يَسْتَنْجِي بِيَمِينِهِ وَلَا يَتَنَفَّسْ فِي الْإِنَاءِ. (رواه البخاري)

dari Abu Qatadah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Jika salah seorang dari kalian kencing maka janganlah ia memegang kemaluannya dengan tangan kanan, jangan beristinja’ dengan tangan kanan dan jangan bernafas dalam gelas saat minum.”

Dan dalam riwayat Muslim dan selainnya disebutkan :

لَا يُمْسِكَنَّ أَحَدُكُمْ ذَكَرَهُ بِيَمِينِهِ وَهُوَ يَبُولُ وَلَا يَتَمَسَّحْ مِنْ الْخَلَاءِ بِيَمِينِهِ… (رواه مسلم)

“Janganlah salah seorang di antara kalian memegang kelaminnya dengan tangan kanan pada waktu kencing. Janganlah mengusap dengan tangan kanan saat buang hajat,… (HR.Al-Bukhari (no.150), Muslim (no.392), Ahmad (no.18927), at-Tirmidzi (no.15), an-Nasa’i (no.24), Abu Dawud (no.31), Ibnu Majah (no.310), dan ad-Darimi (no.673)).

Imam an-Nawawi mengatakan : Para ulama telah sepakat tentang dilarangnya beristinja’ dengan menggunakan tangan kanan. Dan sebagian besar dari para ulama berpendapat bahwa larangan tersebut hanya sebatas makruh dan sebagai adab, bukan pengharaman. (Syarh Muslim (jilid II (III/127)).

Masalah : diriwayatkan :

عَنْ طَلْقٍ بْنِ حرب قَالَ قَدِمْنَا عَلَى نَبِيِّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَجَاءَ رَجُلٌ كَأَنَّهُ بَدَوِيٌّ فَقَالَ يَا نَبِيَّ اللَّهِ مَا تَرَى فِي مَسِّ الرَّجُلِ ذَكَرَهُ بَعْدَ مَا يَتَوَضَّأُ فَقَالَ هَلْ هُوَ إِلَّا مُضْغَةٌ مِنْهُ أَوْ قَالَ بَضْعَةٌ مِنْهُ. (رواه أبو داود)

dari Thalq bin Harba dia berkata; Kami pernah datang menghadap Nabiyullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu datang seorang laki-laki yang sepertinya seorang pedalaman, lalu dia berkata; “Wahai Nabi Allah, bagaimana menurut anda tentang seseorang yang menyentuh kemaluannya setelah dia berwudhu? Maka beliau bersabda: “Bukankah kemaluannya itu hanya sekerat daging dari orang tersebut?” (HR. Abu Dawud (no.155),Ibnu Hajar mengatakan hadits ini Shahih atau Hasan. (Fat-hul Bari (I/306)). Syaikh al-Albani menshahihkannya, Ahmad (no.15857), at-Tirmidzi (no.85), dan Ibnu Majah (no.483)).

Yang ditanyakan disini, zhahihr hadits diatas menunjukkan bolehnya seseorang memegang kemaluannya di setiap keadaan. Lalu bagaimana menyelaraskannya dengan hadits :

مَنْ مَسَّ ذَكَرَهُ فَلْيَتَوَضَّأْ. (رواه أبو داود)

“Barangsiapa yang menyentuh kemaluannya, maka hendaklah dia berwudhu (HR. Abu Dawud (no.154), dan Syaikh al-Albani menshahihkannya, Ahmad (no.26749), an-Nasa’i (no.163), at-Tirmidzi (no.82), Ibnu Majah (no.479) Malik (no.91) dan ad-Darimi (no.725)).

Jawab :  Lajnah Da’imah menatakan bahwa pendapat yang tepat di antara sekian pendapat para ulama dalam masalah ini adalah pendapat jumhur ulama, bahwa wudhu’ akan batal dengan menyentuh kemaluan, karena hadits : Tidaklah kemaluan itu melainkan dia juga bagian dari tubuhmu, adalah hadits dha’if (lemah), tidak akan kuat jika dipertentangkan dengan hadits-hadits shahih yang menunjukkan bahwa barangsiapa yang memegang kemaluannya maka ia wajib berwudhu. Dan kaedah yang berlaku, bahwa setiap perintah menunjukkan kewajiban. Walaupun hadits Thalq dianggap tidak dha’if sekalipun tetap saja hadits tersebut akan mansukh (terhapus) dengan hadits : “Barangsiapa yang menyentuh kemaluannya, maka hendaklah dia berwudhu.

9. Seputar Istinja’ Dan Istijmar (Menggunakan Batu Untuk Bersuci Setelah Buang Hajat)

Al-Istinja’ adalah mencuci tempat keluarnya kotoran dengan air dan mengusapnya dengan batu-batu. Az-Zujaj mengatakan bahwa al-Istinja’ adalah membersihkan dengan tanah liat (lumpur) atau air. Dan Istinja’ adalah mengusap tempat kotoran atau mencucinya. (Lisanul ‘Arab (XV/306), topik : نجا).

Sedangkan al-Istijmar, Abu Zaid mengatakan : al-Istijmar adalah al-Istinja’ dengan batu-batu. Dikatakan pula bahwa al-Istijmar adalah al-Istinja’. Istinja dan Istijmar bermakna sama jika mengusap dengan batu-batu kecil (batu kerikil). Darinya pula penamaan jumrah dalam haji diambil untuk kerikil yang digunakan melempar. (Lisanul ‘Arab (IV/147), topik : جمر).

Diriwayatkan dari :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ اتَّبَعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَخَرَجَ لِحَاجَتِهِ فَكَانَ لَا يَلْتَفِتُ فَدَنَوْتُ مِنْهُ فَقَالَ ابْغِنِي أَحْجَارًا أَسْتَنْفِضْ بِهَا أَوْ نَحْوَهُ وَلَا تَأْتِنِي بِعَظْمٍ وَلَا رَوْثٍ فَأَتَيْتُهُ بِأَحْجَارٍ بِطَرَفِ ثِيَابِي فَوَضَعْتُهَا إِلَى جَنْبِهِ وَأَعْرَضْتُ عَنْهُ فَلَمَّا قَضَى أَتْبَعَهُ بِهِنَّ. (رواه البخاري)

dari Abu Hurairah ia berkata, “Aku mengikuti Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam saat beliau keluar untuk buang hajat, dan beliau tidak menoleh (ke kanan atau ke kiri) hingga aku pun mendekatinya. Lalu Beliau bersabda: “Carikan untukku batu untuk aku gunakan beristinja’ dan jangan bawakan tulang atau kotoran hewan.” Lalu aku datang kepada beliau dengan membawa kerikil di ujung kainku, batu tersebut aku letakkan di sisinya, lalu aku berpaling darinya. Setelah selesai beliau gunakan batu-batu tersebut.” (HR.Al-Bukhari (no.151)).

“Carikan untukku batu untuk aku gunakan beristinja” : {Ibnu Manzhur mengatakan : Dalam hadits disebutkan: … berasal dari kata nafdhuts tsaub (membersihkan baju), karena seseorang yang ber istinja’, ia menghilangkan kotoran dari dirinya dengan menggunakan batu, yaitu menghilangkan dan membersihkannya. (Al-Lisan (VII/241), topik : نفض}.

10. Dimakruhkan Beristijmar Dengan Menggunakan Tulang Dan Kotoran Hewan Yang Telah Kering.

Diriwayatkan dari :

عَنْ أَبِيهِ أَنَّهُ سَمِعَ عَبْدَ اللَّهِ بن مسعود يَقُولُ أَتَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْغَائِطَ فَأَمَرَنِي أَنْ آتِيَهُ بِثَلَاثَةِ أَحْجَارٍ فَوَجَدْتُ حَجَرَيْنِ وَالْتَمَسْتُ الثَّالِثَ فَلَمْ أَجِدْهُ فَأَخَذْتُ رَوْثَةً فَأَتَيْتُهُ بِهَا فَأَخَذَ الْحَجَرَيْنِ وَأَلْقَى الرَّوْثَةَ وَقَالَ هَذَا رِكْسٌ. (رواه البخاري)

dari Bapaknya bahwa ia mendengar ‘Abdullah bin Mas’ud berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pergi ke WC, lalu beliau memerintahkan aku membawakan tiga buah batu. Aku hanya mendapatkan dua batu, lalu aku mencari batu yang ketiga, namun aku tidak mendapatkannya hingga aku pun mengambil kotoran hewan yang sudah kering. Kemudian semua itu aku bahwa ke hadapan Nabi. Namun beliau hanya mengambil dua batu dan membuang kotoran hewan yang telah kering tersebut seraya bersabda: “Ini najis.” (HR.Al-Bukhari (no.152), Ahmad (no.3667), at-Tirmidzi (no.17), an-Nasa’i (no.42), dan Ibnu Majah (no.314)).

Dan disebutkan dalam hadits Abu Hurairah:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ كَانَ يَحْمِلُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِدَاوَةً لِوَضُوئِهِ وَحَاجَتِهِ فَبَيْنَمَا هُوَ يَتْبَعُهُ بِهَا فَقَالَ مَنْ هَذَا فَقَالَ أَنَا أَبُو هُرَيْرَةَ فَقَالَ ابْغِنِي أَحْجَارًا أَسْتَنْفِضْ بِهَا وَلَا تَأْتِنِي بِعَظْمٍ وَلَا بِرَوْثَةٍ فَأَتَيْتُهُ بِأَحْجَارٍ أَحْمِلُهَا فِي طَرَفِ ثَوْبِي حَتَّى وَضَعْتُهَا إِلَى جَنْبِهِ ثُمَّ انْصَرَفْتُ حَتَّى إِذَا فَرَغَ مَشَيْتُ فَقُلْتُ مَا بَالُ الْعَظْمِ وَالرَّوْثَةِ قَالَ هُمَا مِنْ طَعَامِ الْجِنِّ وَإِنَّهُ أَتَانِي وَفْدُ جِنِّ نَصِيبِينَ وَنِعْمَ الْجِنُّ فَسَأَلُونِي الزَّادَ فَدَعَوْتُ اللَّهَ لَهُمْ أَنْ لَا يَمُرُّوا بِعَظْمٍ وَلَا بِرَوْثَةٍ إِلَّا وَجَدُوا عَلَيْهَا طَعَامًا. (رواه البخاري)

dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu, bahwa dia pernah membawakan sebuah kantung air terbuat dari kulit untuk wudlu’ dan hajat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan dia mengikuti beliau dengan membawa kantung air tersebut, beliau bertanya: “Siapakah ini?”. Ia menjawab; “Saya Abu Hurairah”. Maka beliau berkata: “Carikanlah aku beberapa batu untuk aku gunakan sebagai alat bersuci dan jangan bawakan aku tulang dan kotoran hewan”. Kemudian aku datang dengan membawa beberapa batu dengan menggunakan ujung bajuku dan meletakkannya di samping beliau. Kemudian aku pergi. Ketika beliau telah selesai, aku berjalan bersama beliau bertanya; “kenapa dengan tulang dan kotoran hewan?”. Beliau menjawab: “Keduanya termasuk makanan jin. Dan sesungguhnya pernah datang kepadaku utusan jin dari Nashibin, dia adalah sebaik-baik jin, lalu mereka meminta kepadaku tentang bekal. Maka aku memohon kepada Allah untuk mereka agar mereka tidak melewati tulang dan kotoran hewan melainkan mereka mendapatkannya sebagai makanan”. (HR.Al-Bukhari dalam al-Manaqib (no.3571)).

11. disunnahkan beristijmar dengan hitungan ganjil

Tujuannya adalah untuk membersihkan tempat keluarnya kotoran. Dan paling minimal adalah tiga kali basuhan yang menyapu seluruh tempat keluarnya kotoran. Hal ini berdasarkan hadits Salman terdahulu :

لَا يَسْتَنْجِي أَحَدُكُمْ بِدُونِ ثَلَاثَةِ أَحْجَارٍ. (رواه مسلم)

“Janganlah salah seorang dari kalian beristinja’ kurang dari tiga batu’.” (Takhrijnya telah disebutkan di awal).

Dan jika memang telah bersih dengan kurang dari tiga kali basuhan, maka ia tetap wajib menyempurnakannya. dan jika telah bersih dengan lebih dari tiga kali basuhan, dan basuhan itu ternyata menjadi gendap (seperti empat dan enam), maka disunnahkan mengganjilkannya,

Hal ini berdasarkan sabda beliau dalam :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ يَبْلُغُ بِهِ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا اسْتَجْمَرَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْتَجْمِرْ وِتْرًا… (رواه مسلم)

dari Abu Hurairah dan dia merafa’kannya (sampai) kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Apabila seseorang dari kamu bersuci dengan batu, hendaklah dia melakukannya dengan bilangan ganjil,….(al-Hadits). (HR.Al-Bukhari (no.161), Muslim (no.348), dan lafazh diatas adalah lafazh riwayat beliau, Ahmad (no.7180), an-Nasa’i (no.88), Abu Dawud (no.35), Ibnu Majah (no.409), Malik (no.34) dan ad-Darimi (no.703)).

12. Dimakruhkan Berbicara Ketika Berada Di Tempat Buang Hajat

Sebagian besar ulama membenci pembicaraan ketika sedang buang hajat, dan mereka berdalil dengan hadits yang diriwayatkan dari :

عَنْ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ رَجُلًا مَرَّ وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَبُولُ فَسَلَّمَ فَلَمْ يَرُدَّ عَلَيْهِ. (رواه مسلم)

dari Ibnu Umar bahwa seorang laki-laki pernah melewati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang saat itu sedang buang air kecil, lalu dia mengucapkan salam kepada beliau, namun beliau tidak menjawabnya. (HR. Muslim (no.555), an-Nasa’i (no.37), Abu Dawud (no.16), Ibnu Majah (no.353)).

Dan mereka mengecualikannya dalam keadaan darurat atau karena suatu keperluan, seperti mengarahkan orang buta yang hampir terjatuh ke dalam sumur atau meminta air dan semisalnya. (Lihat Syarh Muslim karya Imam an-Nawawi (jilid II (IV/55)) dan asy-Syarhul Mumti’ ala Zadil Mustaqni’ karya Syaikh ‘Utsaimin (I/95)).

Selesai…….

Digubah dan diringkas secara bebas oleh ustadz Abu Nida Chomsaha Shofwan, Lc., dari buku Kitabul ‘Adab karya Fuad bin Abdil Aziz asy-Syalhub.