DALIL-DALIL :

يَا بَنِي آدَمَ خُذُواْ زِينَتَكُمْ عِندَ كُلِّ مَسْجِدٍا…ا

Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid [534],…. (Al-A’raf : 31).  

[534] Maksudnya: tiap-tiap akan mengerjakan sembahyang atau thawaf keliling Ka’bah atau ibadat-ibadat yang lain.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

مَنْ تَوَضَّأَ لِلصَّلَاةِ فَأَسْبَغَ الْوُضُوءَ ثُمَّ مَشَى إِلَى الصَّلَاةِ الْمَكْتُوبَةِ فَصَلَّاهَا مَعَ النَّاسِ أَوْ مَعَ الْجَمَاعَةِ أَوْ فِي الْمَسْجِدِ غَفَرَ اللَّهُ لَهُ ذُنُوبَهُ. (رواه مسلم)

“Barangsiapa berwudlu untuk shalat, lalu menyempurnakan wudlunya, kemudian berjalan menuju shalatnya yang fardlu, lalu dia melaksanakannya bersama manusia, atau bersama jama’ah, atau di masjid, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosanya.” (HR. Muslim (no.341)).

Di Antara Adab-Adab Mendatangi Masjid

1. Larangan Mendatangi Masjid Bagi Orang Yang Telah Memakan Bawang Merah Atau Bawang Putih Dan Yang Semisalnya

Diriwayatkan :

عَنْ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ زَعَمَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ أَكَلَ ثُومًا أَوْ بَصَلًا فَلْيَعْتَزِلْنَا أَوْ قَالَ فَلْيَعْتَزِلْ مَسْجِدَنَا وَلْيَقْعُدْ فِي بَيْتِهِ. (رواه البخاري)

dari Jabir bin ‘Abdullah meyakini bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa memakan bawang putih atau bawang merah hendaklah dia menjauhi kami.” Atau beliau mengatakan: “Hendaklah dia menjauhi masjid kami dan hendaklah dia duduk berdiam di rumahnya.”.” (HR.Al-Bukhari (no.808)).

Dan dari :

عَنْ جَابِرٍ قَالَ نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ أَكْلِ الْبَصَلِ وَالْكُرَّاثِ فَغَلَبَتْنَا الْحَاجَةُ فَأَكَلْنَا مِنْهَا فَقَالَ مَنْ أَكَلَ مِنْ هَذِهِ الشَّجَرَةِ الْمُنْتِنَةِ فَلَا يَقْرَبَنَّ مَسْجِدَنَا فَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ تَأَذَّى مِمَّا يَتَأَذَّى مِنْهُ الْإِنْسُ. (رواه مسلم)

dari Jabir dia berkata, “Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam melarang makan bawang merah dan bawang bakung, tetapi kami sangat membutuhkannya, maka kami makan sebagian darinya, lalu beliau bersabda, ‘Barangsiapa makan sebagian dari pohon berbau busuk ini, maka janganlah dia mendekati masjid kami, karena malaikat merasa tersakiti sesuatu yang karenanya manusia juga merasa tersakiti (disebabkan baunya) ‘.” (HR.Al-Bukhari (no.854), Muslim (no.874), dan lafazh hadits diatas adalah lafazh riwayat muslim, Ahmad (no.14596), an-Nasa’i (no.707),  at-Tirmidzi (no.1806), dan Abu Dawud (no.3823)).

Nabi menganjurkan umatnya untuk bersegera dan berlomba-lomba mendatangi masjid. Diriwayatkan dari :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فِي النِّدَاءِ وَالصَّفِّ الْأَوَّلِ ثُمَّ لَمْ يَجِدُوا إِلَّا أَنْ يَسْتَهِمُوا عَلَيْهِ لَاسْتَهَمُوا وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِي التَّهْجِيرِ لَاسْتَبَقُوا إِلَيْهِ وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِي الْعَتَمَةِ وَالصُّبْحِ لَأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا. (رواه البخاري)

dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Seandainya manusia mengetahui apa (kebaikan) yang terdapat pada adzan dan shaf awal, lalu mereka tidak akan mendapatkannya kecuali dengan cara mengundi, niscaya tmereka akan melakukannya. Dan seandainya mereka mengetahui kebaikan yang terdapat dalam bersegera (menuju shalat), niscaya mereka akan berlomba-lomba. Dan seandainya mereka mengetahui kebaikan yang terdapat pada shalat ‘Isya dan Shubuh, niscaya mereka akan mendatanginya walaupun harus dengan merangkak.”

Dan dalam riwayat Muslim disebutkan :

لَوْ تَعْلَمُونَ أَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِي الصَّفِّ الْمُقَدَّمِ لَكَانَتْ قُرْعَةً و قَالَ ابْنُ حَرْبٍ الصَّفِّ الْأَوَّلِ مَا كَانَتْ إِلَّا قُرْعَةً. (رواه مسلم)

“Kalau mereka mengetahui pahala dalam shaf pertama niscaya mereka akan mengadakan undian.” Ibnu Harb berkata, “Shaf pertama tidak akan terjadi melainkan dengan undian.” (HR.Al-Bukhari (no.580), Muslim (no.663), Ahmad (no.7860), at-Tirmidzi (no.225), dan An-Nasa’i  (no.540)).

3. Berjalan Menghadiri Shalat Dengan Khusyu’ Dan Tenang

Diriwayatkan dari :

عَنْ أَبِي قَتَادَةَ قَالَ بَيْنَمَا نَحْنُ نُصَلِّي مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ سَمِعَ جَلَبَةَ رِجَالٍ فَلَمَّا صَلَّى قَالَ مَا شَأْنُكُمْ قَالُوا اسْتَعْجَلْنَا إِلَى الصَّلَاةِ قَالَ فَلَا تَفْعَلُوا إِذَا أَتَيْتُمْ الصَّلَاةَ فَعَلَيْكُمْ بِالسَّكِينَةِ فَمَا أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوا وَمَا فَاتَكُمْ فَأَتِمُّوا. (رواه البخاري)

dari Abu Qatadah ia berkata, “Ketika kami shalat bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau mendengar suara gaduh orang-orang. Maka setelah selesai, beliau bertanya: “Ada apa dengan kalian?” Mereka menjawab, “Kami tergesa-gesa mendatangi shalat.” Beliau pun bersabda: “Janganlah kalian berbuat seperti itu. Jika kalian mendatangi shalat maka datanglah dengan tenang, apa yang kalian dapatkan dari shalat maka ikutilah, dan apa yang kalian tertinggal maka sempurnakanlah.” (HR.Al-Bukhari (no.599), Muslim (no.603), Ahmad (no.22102), dan Ad-Darimi  (no.1283)).

Dan dari :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِذَا أُقِيمَتْ الصَّلَاةُ فَلَا تَأْتُوهَا تَسْعَوْنَ وَأْتُوهَا تَمْشُونَ عَلَيْكُمْ السَّكِينَةُ فَمَا أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوا وَمَا فَاتَكُمْ فَأَتِمُّوا. (رواه البخاري)

dari Abu Hurairah berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika shalat sudah ditegakkan (iqamatnya) janganlah kalian mendatanginya dengan tergesa-gesa. Datangilah dengan berjalan tenang. Maka apa yang kalian dapatkan shalatlah, dan mana yang ketinggalan sempurnakanlah.” (HR.Al-Bukhari (no.857), Muslim (no.602), Ahmad (no.7606), at-Tirmidzi (no.327), Abu Dawud (no.576) dan Ibnu Majah  (no.775)).

4. Do’a Yang Dibaca Ketika Berjalan Menghadiri Shalat (Di Masjid)

Diriwayatkan bahwa ketika Ibnu Abbas menginap di rumah saudara ibunya, Maimunah, ia berkata (di akhir hadits) :

ا فَأَتَاهُ بِلَالٌ فَآذَنَهُ بِالصَّلَاةِ فَقَامَ فَصَلَّى وَلَمْ يَتَوَضَّأْ وَكَانَ فِي دُعَائِهِ اللَّهُمَّ اجْعَلْ فِي قَلْبِي نُورًا وَفِي بَصَرِي نُورًا وَفِي سَمْعِي نُورًا وَعَنْ يَمِينِي نُورًا وَعَنْ يَسَارِي نُورًا وَفَوْقِي نُورًا وَتَحْتِي نُورًا وَأَمَامِي نُورًا وَخَلْفِي نُورًا وَعَظِّمْ لِي نُورًا. (رواه مسلم)

……Kemudian Bilal datang dan mengumandangkan adzan untuk shalat. Maka beliau pun bangun dan langsung shalat tanpa berwudlu lagi. Dan di dalam lantunan do’anya beliau membaca: “ALLAHUMMAJ ‘AL FII QALBII NUURAN WA FII BASHARII NUURAN WA FII SAM’I NUURAN WA ‘AN YAMIINII NUURAN WA ‘AN YASAARII NUURAN WA FAUQII NUURAN WA TAHTII NUURAN WA AMAAMII NUURAN WA KHALFII NUURAN, WA ‘AZHZHIM LII NUURAN (Ya Allah berilah cahaya dalam hatiku, dalam penglihatanku, dalam pendengaranku, di kanan dan kiriku, di atas dan di bawahku, di hadapan dan di belakangku, dan bersarkanlah cahaya itu bagiku).”

Dan dalam riwayat Abu Daud disebutkan :

ا ثُمَّ خَرَجَ إِلَى الصَّلَاةِ ثُمَّ اتَّفَقَا وَهُوَ يَقُولُ اللَّهُمَّ اجْعَلْ فِي قَلْبِي نُورًا وَاجْعَلْ فِي لِسَانِي نُورًا وَاجْعَلْ فِي سَمْعِي نُورًا وَاجْعَلْ فِي بَصَرِي نُورًا وَاجْعَلْ خَلْفِي نُورًا وَأَمَامِي نُورًا وَاجْعَلْ مِنْ فَوْقِي نُورًا وَمِنْ تَحْتِي نُورًا اللَّهُمَّ وَأَعْظِمْ لِي نُورًا. (رواه أبو داود)

…..Kemudian beliau keluar untuk mengerjakan shalat -lalu hadits keduanya sepakat pada kalimat- sambil mengucapkan: “Allahummaj’al fii qalbii nuuran, waj’al fii lisaani nuuran, waj’al fii basharii nuuran, waj’al khalfii nuuran, wa amaami nuuran, waj’al min fauqii nuuran wa min tahtii nuuran, Allahumma wa a’dzim lii nuuran (Ya Allah, jadikanlah dalam hatiku cahaya, jadikanlah dalam lisanku cahaya, jadikanlah dalam pendengaranku cahaya, jadikanlah dalam penglihatanku cahaya, jadikanlah di belakangku cahaya, jadikanlah di depanku cahaya, jadikanlah di atasku cahaya, jadikanlah di bawahku cahaya. Ya Allah, agungkanlah untukku cahaya.” (HR. Muslim (no.1274), Abu Dawud (no.1148), Syaikh al-Albani mengatakan : Shahih (no.1025), dan Ahmad (no.3531)).

5. Do’a Ketika Masuk Dan Keluar Masjid

Disunnahkan bagi seseorang yang masuk ke dalam masjid untuk mengucapkan :

أ- اللهم صلى وسلم على محمد وعلى آل محمد, اللَّهُمَّ افْتَحْ لِي أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ وَإِذَا خَرَجَ فَلْيَقُلْ: اللهم صلى وسلم على محمد وعلى آل محمد,اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ . (رواه مسلم)

a. Ya Allah, limpahkanlah shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad dan keluarga Muhammad. (Ya Allah, bukalah pintu-pintu rahmat-Mu).” Dan apabila keluar masjid mengucapkan : Ya Allah, limpahkanlah shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad dan keluarga Muhammad. Ya Allah, aku meminta kurnia-Mu.”

Dan dalam riwayat Abu Daud disebutkan :

إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمْ الْمَسْجِدَ فَلْيُسَلِّمْ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ لِيَقُلْ اللَّهُمَّ افْتَحْ لِي أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ فَإِذَا خَرَجَ فَلْيَقُلْ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ. (رواه أبو داود)

“Apabila salah seorang dari kalian masuk Masjid, maka bershalawatlah untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian ucapkanlah: ‘Allahummaftahli Abwaba Rahmatika (Ya Allah, bukakanlah untukku pintu-pintu rahmat-Mu) ‘, dan apabila keluar maka ucapkanlah: ‘Alahumma Inni As`aluka min Fadllika (Ya Allah, sesungguhnya saya memohon karunia kepada-Mu’).” (HR. Muslim (no.1165), Ahmad (no.15627), an-Nasa’i (no.729), Abu Dawud (no.393), Ibnu Majah (no.772), ad-Darimi (no.1394), dengan lafazh tambahan : Hendaklah ia memberi salam kepada nabi. Imam an-Nawawi mengatakan :Diriwayatkan oleh Muslim, Abu Dawud, Nasa’i, Ibnu Majah dan selain mereka dengan sanad-sanad yang shahih. (Al-Adzkar hal.59). Syaikh al-Albani mengatakan dalam riwayat Abu Dawud : Shahih).

ب- أَعُوذُ بِاللَّهِ الْعَظِيمِ وَبِوَجْهِهِ الْكَرِيمِ وَسُلْطَانِهِ الْقَدِيمِ مِنْ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

b. Atau disunnahkan bagi orang yang masuk ke dalam masjid mengucapkan : “A’uudzi billahil Azhim wa bi Wajhihil Karim wa Shulthanihil Qadim minasy syaithanirrajim (aku berlidnung kepada Allah Yang Maha Agung dan kepada wajah-Nya yang Maha Mulia dan kepada kekuasaan-Nya yang Qadim, dari gangguan syetan yang terkutuk).”

Doa ini disebutkan dalam hadits dari :

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ كَانَ إِذَا دَخَلَ الْمَسْجِدَ قَالَ أَعُوذُ بِاللَّهِ الْعَظِيمِ وَبِوَجْهِهِ الْكَرِيمِ وَسُلْطَانِهِ الْقَدِيمِ مِنْ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ قَالَ أَقَطْ قُلْتُ نَعَمْ قَالَ فَإِذَا قَالَ ذَلِكَ قَالَ الشَّيْطَانُ حُفِظَ مِنِّي سَائِرَ الْيَوْمِ. (رواه أبو داود)

dari Abdullah bin Amru bin Al-‘Ash dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwasanya beliau apabila masuk ke masjid mengucapkan: “A’uudzu billahil Azhim wa bi Wajhihil Karim wa Shulthanihil Qadim minasy syaithanirrajim (aku berlindung kepada Allah yang Maha Agung dan kepada Wajah-Nya yang Maha Mulia dan kepada kekuasaan-Nya yang Qadim, dari gangguan syetan yang terkutuk).” Dia bertanya; Apakah itu saja? Aku menjawab: Ya! Dia kemudian meneruskan; Barangsiapa membaca itu, maka syetan akan berkata kepadanya; Dia terjaga dariku sehari ini penuh. (HR. Abu Dawud (no.394). Imam an-Nawawi mengatakan : Sanad-sanadnya Jayyid (baik). (Al-Adzkar hal.60). Syaikh al-Albani mengatakan : Shahih).

Dia bertanya : {Yang bertanya adalah ‘Uqbah bin Muslim, perawi hadits tersebut, dari Abdullah. Syaikh al-Albani menyebutkannya dalam Shahih Abi Dawud (I/93)}.

6. Disunnahkan Mendahulukan Kaki Kanan Ketika Masuk Ke Masjid Dan Kaki Kiri Ketika Keluar Darinya

Mendahulukan kaki kanan ketika masuk ke masjid merupakan sunnah yang disebutkan oleh Anas, ia mengatakan : Termasuk Sunnah, apabila masuk ke masjid engkau mendahulukan kaki kanan, dan apabila keluar darinya engkau mendahulukan kaki kiri. (Al-Hakim mengatakan dalam al-Mustadrak : Hadits ini shahih sesuai dengan kriteria Muslim. (I/328) (no.791), dan disepakati oleh adz-Dzahabi).

Dan merupakan hal yang telah diketahui di kalangan para ulama bahwa perkataan seorang shahabat : Termasuk Sunnah, tergolong ke dalam hukum hadits marfu’ (yang sampai kepada Rasulullah). Al-Bukhari menyertakan sebuah bab yang didalamnya tercantum hadits ‘Asiyah terdahulu. Al-Bukhari mengatakan : Bab at-Tayammum fi Dukhulil Masjid wa ghairihi (Bab mendahulukan kaki kanan ketika masuk ke masid dan selainnya).

Kemudian ia menyebutkan atsar Ibnu ‘Umar, ia berkata : Ibnu ‘Umar memulai dengan kaki kanannya (ketika masuk ke masjid) dan apabila keluar darinya ia memulainya dengan kaki kirinya.

Dan diketahui dari Ibnu ‘Umar betapa ia begitu konsekuen mengikuti Sunnah Nabi.

7. Disunnahkan Mengerjakan Shalat Tahiyyatul Masjid Ketika Masuk Ke Masjid (Sebelum Duduk)

Berdasarkan hadits dari :

عَنْ أَبِي قَتَادَةَ السَّلَمِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمْ الْمَسْجِدَ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ يَجْلِسَ. (رواه البخاري)

dari Abu Qatadah As Salami, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika salah seorang dari kalian masuk masjid, maka hendaklah ia shalat dua rakaat sebelum ia duduk.” (HR.Al-Bukhari (no.425), Muslim (no.714), Ahmad (no.22017), at-Tirmidzi (no.316), an-Nasa’i (no.730), Abu Dawud (no.467), Ibnu Majah  (no.1013) dan ad-Darimi (no.1393)).

Bersambung ke poin no.8-14.

Digubah dan diringkas secara bebas oleh ustadz Abu Nida Chomsaha Shofwan, Lc., dari buku Kitabul ‘Adab karya Fuad bin Abdil Aziz asy-Syalhub.