5. Membaca Satu Surat (Ayat Tertentu) Dari Surat-Surat Dalam Al-Qur’an

a. Membaca Ayat Kursi

dari :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ وَكَّلَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِحِفْظِ زَكَاةِ رَمَضَانَ فَأَتَانِي آتٍ فَجَعَلَ يَحْثُو مِنْ الطَّعَامِ فَأَخَذْتُهُ فَقُلْتُ لَأَرْفَعَنَّكَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرَ الْحَدِيثَ فَقَالَ إِذَا أَوَيْتَ إِلَى فِرَاشِكَ فَاقْرَأْ آيَةَ الْكُرْسِيِّ لَنْ يَزَالَ عَلَيْكَ مِنْ اللَّهِ حَافِظٌ وَلَا يَقْرَبُكَ شَيْطَانٌ حَتَّى تُصْبِحَ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَدَقَكَ وَهُوَ كَذُوبٌ ذَاكَ شَيْطَانٌ. (رواه البخاري)

dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menugaskan aku menjaga harta zakat Ramadlan kemudian ada orang yang datang mencuri makanan namun aku merebutnya kembali, lalu aku katakan; “Aku pasti akan mengadukan kamu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam”. Lalu Abu Hurairah radliallahu ‘anhu menceritakan suatu hadits berkenaan masalah ini. Selanjutnya orang yang datang kepadanya tadi berkata; “Jika kamu hendak berbaring di atas tempat tidurmu, bacalah ayat Al Kursiy karena dengannya kamu selalu dijaga oleh Allah Ta’ala dan syetan tidak akan dapat mendekatimu sampai pagi”. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Benar apa yang dikatakannya padahal dia itu pendusta. Dia itu syetan”. (HR. Al-Bukhari (no.3033)).

Dalam hal ini tersebut sebuah kisah dari Abu Hurairah ketika ia bersama orang yang mencuri perbendaharaan zakat. Ketika Abu Hurairah ingin melaporkannya kepada Nabi, orang itu berkata : Lepaskanlah aku, maukah aku ajarkan satu kalimat yang Allah akan memberi manfaat kepadamu dengannya?? Aku (Abu Hurairah) berkata : Kalimat apa itu?? Ia berkata : Jika engkau hendak mendatangi tempat tidurmu untuk tidur, maka bacalah ayat kursi, yaitu : { اللّهُ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ }  hingga selesai, maka sungguh Allah akan senantiasa menjagamu, dan syetan tidak akan bisa mendekatimu hinngga tiba waktu Shubuh. (Abu Hurairah berkata) Maka ia pun aku lepaskan. Keesokan paginya, Rasulullah bersabda kepadaku : Apa yang terjadi dengan tahananmu semalam?? Aku berkata : Wahai Rasulullah, ia meyakinkanku bahwa ia telah mengajariku beberapa kalimat yang Allah akan memberi manfaat kepadaku dengannya, maka aku pun melepaskannya. Rasulullah bertanya : Kalimat apakah itu?? Aku menjawab : Ia berkata kepadaku : Jika engkau mendatangi tempat tidurmu, maka bacalah ayat kursi dari awal hingga akhir… dan ia mengatakan kepadaku bahwa Allah akan senantiasa menjagaku, dan syetan tidak akan bisa mendekatiku hingga tiba waktu Shubuh. (dan para shahabat adalah kaum yang paling bersemangat dalam kebaikan). Maka Nabi bersabda : Adapun ia, sesungguhnya apa yang dikatakannya itu benar, padahal ia adalah pendusta. Tahukah engkau siapa yang telah engkau ajak bicara selama tiga malam itu wahai Abu Hurairah?? Abu Hurairah menjawab : Tidak. Rasulullah bersabda : Ia adalah syetan. (HR.Al-Bukhari dalam kitab al-Wakalah, bab Idza Wakala Rajulan fatarakal Wakil Syai’a. fa Ajazahu Muwakkal Fahuwa Ja’iz … Kemudian menyampaikan hadits secara mu’allaq. Diriwayatkan secara maushul oleh an-Nasa’i, al-Isma’ili dan Abu Nu’aim…. (Lihat Fat-hul Bari (IV/569)).

b. Membaca Surat Al-Ikhlas Dan Al-Mu’awidzatain (Al-Falaq Dan An-Naas), Kemudian Meniupkannya Ke Tangannya.

Meniup disini maksudnya adalah meludah tipis.

Rasulullah senantiasa membaca surat al-Ikhlas dan al-Mu’awidzatain dan meniupkannya ke tangannya kemudian mengusapkannya ke seluruh tubuh yang mampu dijangkau dengan tangan beliau.

Ummul Mukminin ‘Aisyah berkata :

عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا أَوَى إِلَى فِرَاشِهِ كُلَّ لَيْلَةٍ جَمَعَ كَفَّيْهِ ثُمَّ نَفَثَ فِيهِمَا فَقَرَأَ فِيهِمَا قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ وَ قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ وَ قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ ثُمَّ يَمْسَحُ بِهِمَا مَا اسْتَطَاعَ مِنْ جَسَدِهِ يَبْدَأُ بِهِمَا عَلَى رَأْسِهِ وَوَجْهِهِ وَمَا أَقْبَلَ مِنْ جَسَدِهِ يَفْعَلُ ذَلِكَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ. (رواه البخاري)

dari Aisyah bahwa biasa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bila hendak beranjak ke tempat tidurnya pada setiap malam, beliau menyatukan kedua telapak tangannya, lalu meniupnya dan membacakan: “QULHUWALLAHU AHAD..” dan, “QUL `A’UUDZU BIRABBIL FALAQ…” serta, “QUL `A’UUDZU BIRABBIN NAAS..” Setelah itu, beliau mengusapkan dengan kedua tangannya pada anggota tubuhnya yang terjangkau olehnya. Beliau memulainya dari kepala, wajah dan pada anggota yang dapat dijangkaunya. Hal itu, beliau ulangi sebanyak tiga kali. (HR. Al-Bukhari (no.4630)).

Faidah dari hadits ini, bahwa meniupnya dengan tiga kali tiupan. Kemudian faidah tiupan tersebut dimaksudkan untuk mencari berkah dengan hawa basah, dan hawa yang langsung menegnali telapak tangan sebagai bentuk ruqyah dan bagian dari dzikir-dzikir yang baik. Demikian yang diterangkan oleh al-Qadhi. (Syarh Shahih Muslim karya Imam an-Nawawi (jilid VI (XIV/150)).

Faidah : Meniup tangan disertai bacaan al-Ikhlas dan al-Mu’awidzatain tidak dikhususkan bagi orang yang merasakan sakit saja, agar ia meniup kedua telapak tangannya tiga kali kemudian mengusapnya ke tubuhnya. Al-Bukhari meriwayatkan :

أَنَّ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَخْبَرَتْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا اشْتَكَى نَفَثَ عَلَى نَفْسِهِ بِالْمُعَوِّذَاتِ وَمَسَحَ عَنْهُ بِيَدِهِ فَلَمَّا اشْتَكَى وَجَعَهُ الَّذِي تُوُفِّيَ فِيهِ طَفِقْتُ أَنْفِثُ عَلَى نَفْسِهِ بِالْمُعَوِّذَاتِ الَّتِي كَانَ يَنْفِثُ وَأَمْسَحُ بِيَدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْهُ. (رواه البخاري)

bahwa Aisyah radliallahu ‘anha mengabarkan kepadanya; Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sakit, beliau tiupkan pada dirinya surat-surat mu’awwidzaat dan beliau usapkan dengan tangannya. Maka tatkala beliau sakit yang menyebabkan beliau meninggal, kutiupkan pula kepadanya surat-surat Mu’awwidzat dan kusapukan tangannya ke tubuhnya. (HR. Al-Bukhari (no.4085), Muslim (no.2192), Ahmad (no.24310), Abu Dawud (no.3902), Ibnu Majah (no.3529) dan Malik (no.1755)).

c. Membaca Surat Al-Kaafiruun Untuk (Menyatakan) Berlepas Diri Dari Kesyirikan.

عَنْ نَوْفَلٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِنَوْفَلٍ اقْرَأْ قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ ثُمَّ نَمْ عَلَى خَاتِمَتِهَا فَإِنَّهَا بَرَاءَةٌ مِنْ الشِّرْكِ. (أبو داود)

dari Naufal bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada Naufal: “Bacalah ‘QUL YAA AYYUHAL KAAFIRUUN (Katakanlah; Wahai orang-orang kafir), dan tidurlah setelah membacanya hingga selesai, sebab itu adalah pembebas dari perbuatan syirik.” (HR. Abu Dawud (no.4396), dan lafazh ini menurut  riwayatnya. Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani V, Ahmad (no.23295),  Tirmidzi (no.3402) dan ad-Darimi (no.3427)).

d. Membaca Surat Tabarak (Al-Mulk) Dan Alif Lam Mim Tanzil (As-Sajdah)

عَنْ جَابِرٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ لَا يَنَامُ حَتَّى يَقْرَأَ الم تَنْزِيلُ وَتَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ.(التردذي)

dari Jabir bahwa; “Tidaklah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidur hingga beliau membaca ALIF LAAM MIIM TANZIL dan TABAARAKALLADZI BIYADILIL MULK.” (HR. Al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad (no.1027), Tirmidzi (no.2817). Syaikh al-Albani berkata : Shahih Lighairihi, (no.917)).

Faidah :  ada sebuah atsar menyebutkan tentang surat Tabarak bahwa beliau menganjurkan untuk membaca dan menjaganya :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ سُورَةٌ مِنْ الْقُرْآنِ ثَلَاثُونَ آيَةً تَشْفَعُ لِصَاحِبِهَا حَتَّى يُغْفَرَ لَهُ تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ. (رواه أبو داود)

dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Ada suatu surat dari al qur’an yang terdiri dari tiga puluh ayat dan dapat memberi syafa’at bagi yang membacanya, sampai dia di ampuni, yaitu; “Tabaarakalladzii biyadihil mulku…” (HR. Abu Dawud (no.1192), dan dihasankan oleh Syaikh al-Albani, Ahmad (no.7915),  Tirmidzi (no.2891) dan Ibnu Majah (no.3786)).

e. Membaca Dua Ayat Terakhir Dari Surat Al-Baqarah

عَنْ أَبِي مَسْعُودٍ الْبَدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْآيَتَانِ مِنْ آخِرِ سُورَةِ الْبَقَرَةِ مَنْ قَرَأَهُمَا فِي لَيْلَةٍ كَفَتَاهُ.(رواه البخاري)

dari Abu Mas’ud Al Badri radliallahu ‘anhu, dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Dua ayat terakhir dari surat Al Baqarah, barangsiapa membacanya pada malam hari, maka ia akan dicukupi.” (HR. Al-Bukhari (no.3707), Muslim (no.807), Ahmad (no.16620), at-Tirmidzi (no.2881), Abu Dawud (no.1397), Ibnu Majah (no.1368) dan ad-Darimi (no.1487)).

Tentang sabda beliau ini Imam an-Nawawi mengatakan : Dikatakan bahwa maknanya adalah telah mencukupinya dari shalat malam. Ada pula yang mengatakan, telah cukup untuk menjaga diri dari syetan. Dan ada yang mengatakan, sebagai penjaga dari sesuatu yang membahayakan, dan makna-makna tersebut sma-sama memungkinkan. (Syarh Shahih Muslim (jilid III (VI/76)).

f. Membaca Doa-Doa Dan Berdzikir

di antara petunjuk Nabi ketika hendak tidur, bahwa beliau berdoa dengan beberapa kalimat di malam sebelum tidur.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ اضْطَجَعَ مَضْجَعًا لَمْ يَذْكُرْ اللَّهَ تَعَالَى فِيهِ إِلَّا كَانَ عَلَيْهِ تِرَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَمَنْ قَعَدَ مَقْعَدًا لَمْ يَذْكُرْ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ فِيهِ إِلَّا كَانَ عَلَيْهِ تِرَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ. (رواه أبو داود)

dari Abu Hurairah ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa berbaring dan tidak berdzikir kepada Allah, maka pada hari kiamat baginya tidak ada sesuatu kecuali kerugian. Dan barangsiapa duduk dan tidak berdzikir kepada Allah, maka pada hari kiamat baginya tidak ada sesuatu kecuali kerugian. (HR. Abu Dawud (no.4400), dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani)).

g. Mengucapkan :

عَنْ حَفْصَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَرْقُدَ وَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى تَحْتَ خَدِّهِ ثُمَّ يَقُولُ اللَّهُمَّ قِنِي عَذَابَكَ يَوْمَ تَبْعَثُ عِبَادَكَ ثَلَاثَ مِرَارٍ. (رواه أبو داود)

dari Hafshah isteri nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam jika ingin tidur, beliau meletakkan tangan kananya di bawah pipi. Kemudian beliau membaca doa: ‘Ya Allah, lindungilah aku dari siksa-Mu pada hari Engkau bangkitkan semua makhluk. ‘ Sebanyak tiga kali.” (HR. Ahmad (no.25926), Abu Dawud (no.4388), dan ini adalah lafazh riwayat beliau. Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani tanpa lafazh : tiga kali. At-Tirmidzi (no.3398), Ahmad (no.22733) dari Hudzaifah bin al-Yaman).

h. Mengucapkan :

عَنْ حُذَيْفَةَ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَنَامَ قَالَ بِاسْمِكَ اللَّهُمَّ أَمُوتُ وَأَحْيَا.(رواه البخاري)

dari Hudzaifah dia berkata; “Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam hendak tidur, beliau membaca: ‘Bismika allahumma amuutu wa ahya (Dengan nama-Mu Ya Allah, aku mati dan aku hidup).’ (HR. Al-Bukhari (no.5849), Ahmad (no.22760), at-Tirmidzi (no.3417), Abu Dawud (no.5049), dan Ibnu Majah (no.3880)).

i. Membaca Tasbih (Subhanallah) Dan Tahmid (Alhamdulilah) Tiga Puluh Tiga Kali (33x) Dan Membaca Takbir (Allahu Akbar) Tiga Puluh Empat Kali (34x).

عَنْ عَلِيٍّ أَنَّ فَاطِمَةَ عَلَيْهِمَا السَّلَام شَكَتْ مَا تَلْقَى فِي يَدِهَا مِنْ الرَّحَى فَأَتَتْ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَسْأَلُهُ خَادِمًا فَلَمْ تَجِدْهُ فَذَكَرَتْ ذَلِكَ لِعَائِشَةَ فَلَمَّا جَاءَ أَخْبَرَتْهُ قَالَ فَجَاءَنَا وَقَدْ أَخَذْنَا مَضَاجِعَنَا فَذَهَبْتُ أَقُومُ فَقَالَ مَكَانَكِ فَجَلَسَ بَيْنَنَا حَتَّى وَجَدْتُ بَرْدَ قَدَمَيْهِ عَلَى صَدْرِي فَقَالَ أَلَا أَدُلُّكُمَا عَلَى مَا هُوَ خَيْرٌ لَكُمَا مِنْ خَادِمٍ إِذَا أَوَيْتُمَا إِلَى فِرَاشِكُمَا أَوْ أَخَذْتُمَا مَضَاجِعَكُمَا فَكَبِّرَا ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ وَسَبِّحَا ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ وَاحْمَدَا ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ فَهَذَا خَيْرٌ لَكُمَا مِنْ خَادِمٍ.(رواه البخاري)

dari Ali bahwa Fatimah mengadukan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam perihal tangannya yang lecet akibat mengaduk gandum, maka Fatimah datang kepada beliau dan meminta seorang pelayan, tetapi dia tidak menemui beliau, lalu Fatimah menitipkan pesan kepada Aisyah. Ketika Nabi datang, Aisyah pun menyampaikan pesan kepada beliau. Ali melanjutkan; “Kemudian beliau datang kepada kami ketika kami tengah berbaring (di tempat tidur), maka akupun bangkit berdiri, namun beliau bersabda: ‘Tetaplah pada tempat kalian berdua.’ kemudian beliau duduk di samping kami sampai aku merasakan dinginnya kedua telapak kaki beliau, lalu beliau bersabda: ‘Maukah aku tunjukkan kepada kalian sesuatu yang lebih baik bagi kalian berdua daripada seorang pelayan, apabila kalian berdua hendak tidur maka bertakbirlah kepada Allah sebanyak tiga puluh tiga kali, bertasbihlah sebanyak tiga puluh tiga kali dan bertahmidlah sebanyak tiga puluh empat, dan ini semua lebih baik buat kalian berdua dari seorang pelayan.’ (HR. Al-Bukhari (no.5843), Muslim (no.2727), Ahmad (no.605), at-Tirmidzi (no.3408), Abu Dawud (no.1397), dan ad-Darimi (no.2685)).

j. Orang Yang Terbangun Dari Tidurnya Karena Mimpi Buruk Hendaklah Mengucapkan :

عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُعَلِّمُهُمْ مِنْ الْفَزَعِ كَلِمَاتٍ أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ مِنْ غَضَبِهِ وَشَرِّ عِبَادِهِ وَمِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِينِ وَأَنْ يَحْضُرُونِ. (رواه أبو داود)

dari ‘Amru bin Syu’aib dari Ayahnya dari Kakeknya bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengajari mereka beberapa kalimat karena adanya rasa takut, yaitu: A’UUDZU BIKALIMAATILLAAHIT TAAMMATI MIN GHADLABIHI WA SYARRI ‘IBAADIHI WA MIN HAMAZAATISY SYAYAATHIINI WA AN YAHDLURUUNA (Aku berlindung kepada kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kemurkaan-Nya serta kejahatan para hamba-Nya, dan dari bisikan setan serta kedatangan mereka kepadaku) ‘. (HR. Abu Dawud  (no.3395), dan dihasankan oleh Syaikh al-Albani, Ahmad (no.6657), dan At-Tirmidzi (no.3528)).

k. Ketika Seseorang Bermimpi, Apa Yang Sebaiknya Ia Ucapkan Dan Apa Yang Sebaiknya Ia Lakukann Jika Yang Dilihatnya Dalam Mimpi Menyenangkan Atau Menakutkan.

Apa yang dilihat oleh orang yang tidur bisa jadi itu adalah mimpi biasa, dan mungkin pula merupakan ru’ya (ilham). Adapun ru’ya ini datangnya dari Allah, sedangkan mimpi bisa jadi datangnya dari syetan.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي قَتَادَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ح و حَدَّثَنِي سُلَيْمَانُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ حَدَّثَنَا الْأَوْزَاعِيُّ قَالَ حَدَّثَنِي يَحْيَى بْنُ أَبِي كَثِيرٍ قَالَ حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي قَتَادَةَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الرُّؤْيَا الصَّالِحَةُ مِنْ اللَّهِ وَالْحُلُمُ مِنْ الشَّيْطَانِ فَإِذَا حَلَمَ أَحَدُكُمْ حُلُمًا يَخَافُهُ فَلْيَبْصُقْ عَنْ يَسَارِهِ وَلْيَتَعَوَّذْ بِاللَّهِ مِنْ شَرِّهَا فَإِنَّهَا لَا تَضُرُّهُ.(رواه البخاري)

dari ‘Abdullah bim Abu Qatadah dari bapaknya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan diriwayatkan pula, telah bercerita kepadaku Sulaiman bin ‘Abdur Rahman telah bercerita kepada kami Al Walid telah bercerita kepada kami Al Awza’iy berkata telah bercerita kapadaku Yahya bin Abi Katsir berkata telah bercerita kapadaku ‘Abdullah bin Abu Qatadah dari bapaknya berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Mimpi yang baik berasal dari Allah sedangkan yang buruk dari setan. Maka itu bila seseorang dari kalian mengalami mimpi buruk yang menakutkannya hendaklah meludah ke arah kirinya dan hendaklah dia meminta perlindungan kepada Allah dari keburukan mimpinya sebab dengan begitu mimpinya itu tidak akan membahayakannya”. (HR. Al-Bukhari (no.3049), Muslim (no.2261,2262,2263), Ahmad (no.22129), at-Tirmidzi (no.2277), Abu Dawud (no.5021), Ibnu Majah (no.3909), Malik (no.1784)  dan ad-Darimi (no.2141)).

Disebutkan dalam Shahih al-Bukhari dari jalan yang lain :

فَمَنْ رَأَى شَيْئًا يَكْرَهُهُ فَلْيَنْفِثْ عَنْ شِمَالِهِ ثَلَاثًا وَلْيَتَعَوَّذْ مِنْ الشَّيْطَانِ.(رواه البخاري)

maka barangsiapa melihat sesuatu yang tidak disukainya, hendaklah ia meludah ke samping kirinya sebanyak tiga kali, dan mintalah perlindungan dari setan, (HR. Al-Bukhari (no.6480).

dalam riwayat Muslim disebutkan :

الرُّؤْيَا الصَّالِحَةُ مِنْ اللَّهِ وَالرُّؤْيَا السَّوْءُ مِنْ الشَّيْطَانِ فَمَنْ رَأَى رُؤْيَا فَكَرِهَ مِنْهَا شَيْئًا فَلْيَنْفُثْ عَنْ يَسَارِهِ وَلْيَتَعَوَّذْ بِاللَّهِ مِنْ الشَّيْطَانِ لَا تَضُرُّهُ وَلَا يُخْبِرْ بِهَا أَحَدًا فَإِنْ رَأَى رُؤْيَا حَسَنَةً فَلْيُبْشِرْ وَلَا يُخْبِرْ إِلَّا مَنْ يُحِبُّ.(رواه مسلم)

“Mimpi yang baik datang dari Allah dan mimpi yang buruk datang dari setan, barang siapa yang bermimpi buruk maka hendaklah ia meludah ke sebelah kirinya dan meminta perlindungan kepada Allah dari godaan syetan niscaya tidak akan membahayakannya. Dan jangan menceritakan mimpi itu kepada siapapun. Dan jika dia bermimpi baik maka bergembiralah dan jangan menceritakannya kecuali kepada orang yang dikasihi.” (HR. Muslim (no.4197).

Masih diriwayatkan oleh Muslim dari :

عَنْ جَابِرٍ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ إِذَا رَأَى أَحَدُكُمْ الرُّؤْيَا يَكْرَهُهَا فَلْيَبْصُقْ عَنْ يَسَارِهِ ثَلَاثًا وَلْيَسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنْ الشَّيْطَانِ ثَلَاثًا وَلْيَتَحَوَّلْ عَنْ جَنْبِهِ الَّذِي كَانَ عَلَيْهِ. (رواه مسلم)

dari Jabir dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda: “Apabila salah seorang kamu bermimpi dengan mimpi yang tidak disenanginya, maka hendaklah ia meludah ke kiri tiga kali, kemudian berlindunglah kepada Allah dari gangguan syetan tiga kali, sesudah itu merubah tidurnya dari posisi semula.” (HR. Muslim (no.4199).

juga dalam riwayat Muslim dari :

فَإِنْ رَأَى أَحَدُكُمْ مَا يَكْرَهُ فَلْيَقُمْ فَلْيُصَلِّ وَلَا يُحَدِّثْ بِهَا النَّاسَ. (رواه مسلم)

jika kamu bermimpi yang tidak kamu senangi, bangunlah, kemudian Shalatlah, dan jangan menceritakannya kepada orang lain.” (HR. Muslim (no.4200)).

Bersambung ke poin no.6-8.

Digubah dan diringkas secara bebas oleh ustadz Abu Nida Chomsaha Shofwan, Lc., dari buku Kitabul ‘Adab karya Fuad bin Abdil Aziz asy-Syalhub.