Bahaya Revolusi Iran
Bendera Iran

Oleh: Ustadz Abu Nida –hafizhahullah-

Salah satu tokoh utama Syi’ah abad ini adalah Khomeini. Pemikiran-pemikirannya banyak menumpuk di dalam bukunya yang berjudul al-Hukumah al-Islamiyyah. Buku ini dijadikan pegangan dalam menjalankan pemerintahan Syi’ah di Iran. Dilihat dari kitab-kitab yang menjadi sandaran mereka, semakin jelas perbedaan antara Ahlus Sunnah dengan Syi’ah. Kaum Syi’ah termasuk Khomeini tidak mengambil hadits Bukhari sebagai sumber pengambilan hukum, sebab Bukhari mengeluarkan hadits shahih tentang afdhaliyah (sifat keutamaan) Abu Bakar, Umar, dan Utsman radhiyallahu anhum. Dan juga tidak mengambil hadits-hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah, sehingga seluruh hadits yang beliau riwayatkan mereka tolak.

Dalam kesempatan ini saya akan angkat munculnya revolusi Iran dan dampaknya bagi kalangan Ahlu Sunnah wal-Jama’ah. Revolusi Iran adalah revolusi Syi’ah dengan slogan la syarqiyyah la gharbiyyah, Islamiyyah (لاشر قية لاغربية إسلامية). Yakni tidak Timur tidak Barat, tapi Islamiyyah. Maksudnya mereka tidak berkiblat kepada Amerika dan tidak juga kepada Rusia, tapi bersandar kepada kesucian Aqidah Islamiyah. Kini, bagaimana sikap kaum Muslimin atau kalangan jama’ah Islamiyyah atau harakah Islamiyyah tentang revolusi tersebut. Dalam hal ini ada dua versi. Pertama, bagi jama’ah atau harakah atau individu yang orientasi da’wahnya dalam rangka tauhidullah berdasarkan al-Qur’an dan as-Sunnah dengan pemahaman salafu al-ummah dalam semua aspek kehidupan, tentu mereka akan menjawab bahwa revolusi Iran adalah revolusi Syi’ah. Revolusi itu adalah dalam rangka menghancurkan Ahlu Sunnah Wal-Jama’ah. Jadi, dengan kemenangan Khomeini, berarti munculnya fitnah di kalangan umat Islam. Kedua, jama’ah atau harakah atau individu yang tidak berasas tauhid dan manhaj salaf, mereka beragam penilaiannya. Bagi yang berorientasi kepada persatuan Islam (ukhuwah Islamiyyah). Mereka mendukung dan membantunya. Seperti yang dilakukan oleh beberapa tokoh harakah Islamiyyah di Mesir, Yordania, Suriah, Sudan, Afrika Utara. Bahkan, mereka mengucapkan selamat atas keberhasilan Khomeini. Mereka husnuzhan kepada Khomeini dengan harapan setelah Iran berhasil melakukan revolusi, bisa merembet ke jihad Afghan dan Suriah. Mereka tidak paham bahwa Syi’ah tengah ber-taqiyyah.

Setelah tiga tahun, ternyata banyak orang-orang Ahlu Sunnah di Iran dipenjara dan dihukum mati. Bagi yang berorientasi politik, mereka kagum dan memuji-muji Khomeini dengan berbagai macam pernyataan. Seperti pernyataan “Khomeini adalah pemimpin umat. Khomeini pemimpin sejati”. Sebab terbukti dengan kemandiriannya, dia berhasil menumbangkan Shah Iran. Mereka mengatakan pula: “Di mana pemimpin Ahlu Sunnah?” Bagi yang orientasi dakwahnya mengutamakan terwujudnya masyarakat Islam, mereka akan mengatakan bahwa Revolusi Iran adalah Revolusi Islam. Buktinya, disana syari’at Islam dijalankan mereka membangga-banggakan Khomeini dan dia tidak melihat bukti bahwa ia beraqidah Syi’ah. Yang dilihatnya hanya zhahir semata.

Memang, orang-orang yang tidak punya dasar aqidah yang shahih pasti mereka akan bimbang, terutama orang-orang yang mengagungkan aspek-aspek intelektual di atas segala-galanya. Dalam rangka menyusupkan pemikiran-pemikirannya supaya dapat diterima di kalangan Ahlu Sunnah, Syi’ah melakukan manuver-manuver yang sangat agresif, di antaranya:

a. Membandingkan mana yang lebih baik antara Iran Shah Reza Pahlevi atau Khomeini?

b. Bagaimana pendapat kaum Sunni tentang ditutupnya kedutaan Israel di Teheran dan dibukanya kantor PLO di Teheran?

c. Bagaimana hubungan Hasan al-Banna dengan Syi’ah?

d. Ibrahim al-Yazidi, warga Amerika penganut Syi’ah secara ta’asub (fanatik) memberikan intima’ kepada jama’ah Ikhwanul Muslimin.

e. Khomeini memerintahkan kepada orang Syi’ah untuk mengikuti shalat Jum’at bersama Ahlu Sunnah di musim haji.

f. Adanya tazkiyah (rekomendasi) dari beberapa harakah Islamiyyah untuk mendukung gerakan Khomeini.

g. Mereka mengatakan bahwa Imam Bukhari juga meriwayatkan enam buah hadits shahih tentang ahlul bait.

h. Melontarkan ide internasionalisasi pengurusan Ka’bah (Masjid Al-Haram) dan masjid an-Nabawi dari tangan Saudi Arabia, serta masjid al-Aqsha dari tangan Israel.

i. Mendengungkan slogan “Tidak Syi’ah, tidak Sunni, tapi Islam.”

j. Menampakkan semangatnya untuk mempersatukan Syi’ah dan Ahlu Sunnah dengan cara-cara:

– Mengenalkan bahwa madzhab Syi’ah adalah madzhab kelima dengan “mereka” madzhab ahlul bait?

– Mengajak (menyediakan beasiswa) untuk belajar di Qum, Iran.

– Membuat opini, bahwa Khomeini adalah imam umat dan revolusi Iran ini akan diekspor ke dunia Islam lainnya?

– Menjadikan tahun hijriyah sebagai tahun resmi Umat Islam?

Demikianlah tipu daya Syi’ah dalam upaya mengelabuhi umat Islam. Bagaimana hakekat sebenarnya di balik slogan-slogan tersebut? Untuk menjelaskan syubhat atau manuver-manuver di atas, kita perlu mengetahui bahwa secara materi Syi’ah mempunyai kekuasaan yang riil. Dalam konstitusi Iran Syi’ah, disebutkan bahwa agama resmi negara adalah madzhab Itsna Asyariyah. Oleh karena itu presiden dan perdana menteri harus berasal dari madzhab ini. Yang demikian merupakan suatu kemenangan tersendiri. Di samping itu, negara harus bersumber pada imam Ayatullah Khomeini yang diistilahkan mereka sebagai Wilayatul Faqih. Dengan memberikan ketentuan-ketentuan kekuasaan seperti itu, maka kemudian mendudukkan para pejabat menteri dan seluruh aparat kedutaannya dari orang-orang Syi’ah. Dari sinilah mereka membuat jaringan internasional.

Sebaliknya, keadaan yang dialami Ahlu Sunnah di Iran adalah sangat menyedihkan, seperti diantaranya:

– Tentara dari kalangan Ahlu Sunnah dituduh berkhianat dan melakukan pemberontakan guna mendukung Shah Iran, sehingga akhirnya dijatuhi hukuman mati. Hal ini merupakan musibah bagi Ahlu Sunnah.

– Menurut Syaikh Muhammad Abdul Qadir Azad, Ketua Majlis Ulama Pakistan, Khomeini dahulu pernah menjanjikan akan memberikan sebidang tanah guna didirikan masjid bagi kalangan Ahlu Sunnah di Teheran. Meskipun tanah sudah dibayar, tapi kemudian diperintahkan untuk menyita tanah tersebut.

– Kalangan Ahlus Sunnah yang semenjak sepuluh tahun sebelum revolusi Iran terjadi biasa melakukan shalat ‘ied di lapangan (di kota Teheran), akan tetapi setelah kemenangan Revolusi Iran, walaupun sudah mendapat izin resmi, pihak keamanan membubarkan kaum Muslimin yang hendak bershalat ‘ied di lapangan. Beginikah perlakuan aparat dari sebuah negara yang telah memproklamasikan sebagai negara Islam terhadap Ahlu Sunnah?

– Kebiasaan yang dilakukan orang-orang Syiah, baik dulu maupun sekarang, yaitu melakukan provokasi pada musim haji dalam rangka memasukkan misinya. Pada masa dulu, mereka menuduh Khalifah Utsman bin Affan menyalahgunakan wewenang dan menuntut agar beliau meletakkan jabatan, sehingga pada musim haji tahun 35 H/656 M mereka menggerakkan pasukan secara besar-besaran (+ 6.000 orang) yang didatangkan dari Mesir, Syam dan Basrah untuk menduduki kota Madinah. Pasukan tersebut dipimpin oleh al-Ghafiqi bin Harb. Mereka mengepung rumah Khalifah dan membunuhnya.

– Pada tanggal 6 Dzulhijah (musim haji) tahun 1407 H. kaum Muslimin di seluruh penjuru dunia dikagetkan oleh suatu peristiwa “kotor”. Yaitu aksi demonstrasi besar-besaran yang dilakukan mereka, huru-hara dan sikap permusuhan terhadap para petugas keamanan Saudi. Peristiwa itu berakhir dengan membawa korban jiwa di kalangan jama’ah haji. Tujuan dari aksi mereka tidak lain adalah guna mengubah ibadah haji menjadi medan pertempuran.

– Dengan berkedok slogan la syarqiyyah la gharbiyyah, islamiyyah (tidak Timur tidak Barat, tapi Islam) ditanamkanlah rasa benci kepada Amerika, Rusia dan negara-negara yang ada hubungan dengan keduanya. Kemudian diajak untuk mengikuti Khomeini menjadi imam umat. Cara-cara ini adalah tidak dibenarkan menurut Ahlu Sunnah.

 

Jawaban terhadap Syubhat-syubhat yang dilontarkan Syi’ah.

Berikut akan diungkapkan jawaban terhadap syubhat yang dilontarkan oleh kaum Syi’ah:

a. Mana yang lebih baik antara Iran Shah dan Iran Khomeini? Untuk menjawab pertanyaan ini harus diajukan pertanyaan balik, mana yang lebih baik antara pemerintah Inggris dan pemerintahan Gamal Abdul Naser di Mesir. Bila dilihat, Gamal Abdul Naser lebih berbahaya tipu dayanya dibanding pemerintahan Inggris, karena: – Keduanya sama-sama tidak berhukum dengan hukum Allah, tapi Inggris jelas kekufurannya, sedangkan pemerintahan Gamal Abdul Naser tertutup kekafirannya bagi kebanyakan manusia, kecuali sebagian kecil saja yang tahu. – Untuk memahamkan pada umat bahwa Gamal Abdul Naser berhukum dengan hukum Prancis dan Inggris adalah sulit, karena dia berasal dari “kulit” kita (kaum Muslimin). Oleh karenanya sulit bagi kita untuk memeranginya, sementara dia mencampur antara syari’at Islam dan Prancis serta Inggris. Adapun Inggris jelas kekufurannya dan tidak sulit untuk mengumpulkan kaum muslimin guna memeranginya. Demikian pula jawaban untuk menanggapi syubhat yang perama ini. Untuk kasus di Iran ini, setelah hilang thaghut (berhala) yang lama datang thaghut (berhala) yang baru. Pelakunya itu-itu juga, hanya versi kekufurannya yang berbeda.

b. Tentang ditutupnya kedutaan Israil (penamaan negara Israel telah dijelaskan kesalahannya oleh para ulama. Yang benar adalah negara Yahudi –red) di Teheran, dan dibukanya kantor PLO di sana? Tidak mesti ditutupnya sebuah kedutaan dari suatu negara, kemudian antara kedua negara tersebut bermusuhan. Mungkin saja penutupan tersebut karena pertimbangan faktor yang lain. Dan apakah dengan dibukanya kantor kedutaan PLO di Teheran berarti bisa menciptakan keamanan bagi masyarakat muslim di Palestina? Ini hanya makar yang dilakukan pemerintah Syi’ah demi keuntungan politis di masa mendatang.

c. Hubungan Hasan al-Banna dengan Syi’ah Hubungan antara tokoh pendiri Ikhwanul Muslimin ini dengan Syi’ah, bukanlah merupakan tazkiyah (rekomendasi) bagi Ahlu Sunnah untuk menerima kehadiran mereka (kaum Syi’ah) di tengah-tengah kalangan Ahlu Sunnah.

d. Perihal Ibrahim al-Yazidi ber-intima’ kepada Jama’ah Ikhwanul Muslimin di Amerika, karena waktu itu dia diusir dari Persatuan Pelajar Muslim di Amerika karena paham Syi’ahnya.

e. Tentang masalah Khomeini yang memerintahkan untuk shalat jum’at bersama kalangan Ahlu Sunnah pada musim haji. Itu adalah gaya taqiyah Khomeini. Dia berdusta dan menipu kaum Muslimin agar kaum Muslimin mau menerima kehadiran Syi’ah di tengah-tengah mereka.

f. Tentang tazkiyyah dan bantuan harakah Islamiyah kepada gerakan Khomeini, karena dakwah kaum harakah tidak berorientasi kepada tashihul aqidah dan mereka tidak tahu tujuan Khomeini. Sehingga, mereka bersikap husnuzhan dengan pengharapan semangat revolusi Iran bisa menjalar ke Afganistan dan Suriah. Akan tetapi setelah mereka mengetahui kebusukan Khomeini (yang memusuhi Ahlu Sunnah) baru menyesal.

g. Tentang Imam Bukhari yang menerima enam riwayat tentang ahlul-bait dalam shahih-nya. Sesungguhnya seluruh Ahlu Sunnah termasuk Imam Bukhari mempunyai kewajiban mencintai ahlul bait, karena telah datang perintah dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melalui riwayat yang shahih, bukan karena aqidah Syi’ahnya. Dan juga pengertian ahlul-bait yang sebenarnya antara Ahlu Sunnah dan Syi’ah sangat berbeda.

h. Mengenai ide meng-internaionalisasikan Ka’bah (Masjid al-Haram) dan masjid an-Nabawi dari tangan Saudi Arabia dan Masjidi al-Aqsha dari tangan Israil. Perlu diketahui oleh kita, pertama, yang dimaksud bebas dari tangan Saudi bukan hanya lantaran semata-mata benci kepada Saudi-nya, tapi karena di Saudi masih banyak ulama Ahlu Sunnah yang masih tegar dalam mendakwahkannya. Kemudian apa sebenarnya latar belakang Khomeini melontarkan ide tersebut? Karena jika Ka’bah (dan dua masjid tersebut) sudah lepas dari Saudi, maka akan diperlukan imam yang kuat. Sedangkan di kalangan Ahlu Sunnah hal ini belum Nampak. Untuk itulah Khomeini berharap kaum Ahlu Sunnah mengangkatnya menjadi imam umat. Kedua, menurut Aqidah Syi’ah, Imam Mahdi akan keluar dari Ka’bah dan akan langsung disambut oleh orang Syi’ah. Dalam hal Khomeini dan kaum Syi’ah lainnya tidak berani terang-terangan menyebutkan lawan mereka yakni Ahlus Sunnah akan tetapi yang diserang adalah pemerintahan dan aparat Saudi dengan berkedok slogan anti Amerika dan Rusia. Bile ide Khomeini ini dituruti maka akn habislah ulama Ahlus Sunnah berhati-hatilah terhadap tipu daya Syi’ah ini. Janganlah kita hanya melihat penampilan zhahir nya saja tapi lihatlah sisi aqidahnya.

i. Istilah “Tidak Syi’ah dan tidak Sunni. Tapi Islam” Slogan seperti ini sangat berbahaya bagi Ahlu Sunnah. Dan ini memang cara propaganda Syi’ah untuk menyusupkan ajarannya di tengah-tengah Ahlu Sunnah. Pada mulanya orang diajak bersikap netral, tidak ta’asub pada Syi’ah atau Sunni. Setelah itu baru dimasuki pemikiran Syi’ah. Dakwah ini khususnya dialamatkan bagi mereka yang belum menganut Syi’ah.

 

Bagaimana Keadaan di Indonesia?

Menurut sejarah masuknya Islam di Indonesia, selain orang dari Arab dan juga pedagang dari Persia. Melalui para pedagang dari Persia yang aqidahnya tercampur dengan paham Syi’ah, ajaran Syi’ah tersebar. Petunjuk tentang hal tersebut bisa diamati berdasar atsar (bekas)-nya, seperti munculnya tradisi tabaruk dan tawassul kepada syaikh dan kuburan; takhayul kepada benda-benda yang dianggap keramat, dan barzanji (Jawa=diba’an). Bahkan, ada pada beberapa kalangan orang tua yang masih meyakini bahwa kuburan Ali ada di bulan.Tradisi-tradisi semacam itu menunjukkan pengaruh Syi’ah telah tertanam sejak dulu. Meskipun demikian, mereka yang masih berpegang dengan tradisi semacam di atas, tidak mau dikatakan Syi’ah. Untuk menunjukkan bahwa si fulan menganut faham Syi’ah memang sangat sulit, karena mereka akan bertameng dengan taqiyyah.

Bagi kita Ahlu Sunnah paling tidak hanya bisa mengatakan bahwa orang atau lembaga tertentu cenderung pada pemikiran Syi’ah. Seperti di Bandung ada Jalaludin Rahmat dengan Pesantren Al-Muthahari-nya; Penerbit buku Mizan, Pesantren YAPI di Bangil Jawa Timur, di mana para juru dakwahnya tersebar hampir di tiap kota seperti Malang, Surabaya, Pekalongan, Bogor, Jepara (Jawa Tengah), Solo, Yogya, Bandung dan lain-lain. Bahkan, gerakan mereka masuk ke berbagai organisasi masa besar, seperti ICMI. Mereka menyusup pula di surat kabar Republika. Adapun majalah resmi yang membawa misi Syi’ah, adalah majalah yang dikeluarkan Kedutaan Besar Iran untuk Indonesia yang bernama Yaumul Quds.

Mudah-mudahan bagi saudara-saudara kita yang seiman, setelah mengetahui hal ini bisa memahami dan mengerti benar tentang bahayanya pemikiran Syi’ah. Sehingga dengan demikian bisa memilih bacaan yang jelas menurut aqidah kita. Oleh karena itu saya wasiatkan untuk diri saya dan kaum Muslimin suatu hadits:

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلّى الله عليه و سلّم: أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى الله عزوجل وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَاِنْ تَأَمَّرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ حَبَشِيِّ, فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيْرًا, فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِيْ وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِيْنَ تَمَسَّكُوْبِهَا وَعَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ, وَاِيَّاكُمْ وَمُحَدَثَاتِ اْلأُمقوْرِ… (أو كَمَاقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلعم) (رواه التر

مدى وقال حسن صحيح)

“Telah bersabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam : Aku wasiatkan kepada kamu sekalian agar bertaqwa kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Mendengar dan taat, walaupun yang memerintahkan kamu sekalian adalah seorang budak Habsyi. Sesungguhnya barangsiapa diantaramu yang hidup (lebih lama, red), niscaya akan menjumpai perselisihan (paham, red) yang banyak. Maka, berpeganglah kamu sekalian kepada sunnahku dan sunnah Khulafa’u ar-Rasyiddin yang mendapat petunjuk. Pegang kukuhlah ia dan gigitlah dengan gerahammu. Dan berhati-hatilah dengan perkara baru yang diada-adakan…” (HR. Tirmidzi, dan dikatakannya Shahih)

Demikianlah apa yang dapat saya tuliskan. Yang benar datangnya dari Allah dan yang salah datang dari saya, dan kita insya Allah akan senantiasa rujuk kepada yang haq.

Artikel ini pernah dipublikasikan di Majalah as Sunnah tahun 1996