DALIL-DALIL :

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَصَافَحُوا يَذْهَبْ الْغِلُّ وَتَهَادَوْا تَحَابُّوا وَتَذْهَبْ الشَّحْنَاءُ. (رواه مالك)

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Hendaklah kalian saling berjabat tangan, niscaya maka akan hilanglah kedengkian. Hendaklah kalian saling memberi hadiah, niscaya akan saling mencintai dan menghilanglah permusuhan.” (HR.Malik dari jalan ‘Atha’ bin Abdillah al-Khurasani, beliau berkata : Rasulullah bersabda : ….. (Al-Hadits (no.1413)). Ibnu Abdil Barr mengatakan dalam at-Tamhid : Hadits ini diriwayatkan bersambung dari jalan-jalan periwayatan yang semuanya hasan. Kemudian beliau mengutip sebagian dari jalan-jalan periwayatan hadits tersebut (At-Tamhid (XXI/12)).

وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا مِنْ مُسْلِمَيْنِ يَلْتَقِيَانِ فَيَتَصَافَحَانِ إِلَّا غُفِرَ لَهُمَا قَبْلَ أَنْ يَفْتَرِقَا. (رواه أبوداود)

Dan “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidaklah dua orang muslim bertemu lalu berjabat tangan kecuali Allah akan memberi ampunan kepada keduanya sebelum mereka berpisah.” (HR.Abu Dawud (no.4536). Syaikh al-Albani mengatakan : Shahih. Diriwayatkan juga oleh at-Tirmidzi (no.2727) dan Ibnu Majah (no.3703).

Beberapa Adab Ketika Berjumpa

1. Disunnahkan Saling Berjabat Tangan

Disebutkan dalam kisah penerimaan taubat dari Allah untuk Ka’ab, bahwa ia berkata :

دَخَلْتُ الْمَسْجِدَ فَإِذَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَالِسٌ فَقَامَ إِلَيَّ طَلْحَةُ بْنُ عُبَيْدِ اللَّهِ يُهَرْوِلُ حَتَّى صَافَحَنِي وَهَنَّأَنِي. (رواه أبوداود)

…. aku memasuki masjid, ternyata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sedang duduk. Kemudian Thalhah berdiri untuk menyambutku dengan berlari-lari kecil, hingga ia menyalami dan mengucapkan selamat kepadaku. (Al-Bukhari meriwayatkan secara mu’allaq dalam shahihnya kitab al-Isti’zan, bab al-Mushafahah. Dan hadits ini diriwayatkan secara maushul oleh beliau dalam kisah Ka’ab, kitab al-Maghazi (no.4418)).

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ لَمَّا جَاءَ أَهْلُ الْيَمَنِ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ جَاءَكُمْ أَهْلُ الْيَمَنِ وَهُمْ أَوَّلُ مَنْ جَاءَ بِالْمُصَافَحَةِ. (رواه أبوداود)

dari Anas bin Malik ia berkata, “Ketika penduduk Yaman datang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Orang-orang Yaman telah datang kepada kalian, dan mereka adalah orang-orang pertama yang mengamalkan untuk saling berjabat tangan.” (HR.Abu Dawud (no.4537), al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrod (no.967) dan lafazh diatas adalah lafazh beliau. Dan, lafazh : Dan merekalah yang pertama kali datang dengan menjabat tangan, adalah perkataan mudraj dari perkataan Anas, sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikh al-Albani. Dan, masalah ini lebih jelas lagi dengan riwayat Imam Ahmad (III/155,223). Lihat Silsilah ash-Shahihah (no.527) cet. Al-Maktab al-Islami)).

Juga dari hadits al-Bara’ bin Azib, ia mengatakan :

من تمام التحية أن تصافح أخاك. (رواه البخاري)

Di antara kesempurnaan ucapan salam adalah dengan menjabat tangan saudaramu. (HR.al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad (no.968) dengan sanad yang shahih secara mauquf, demikian yang dikatakan oleh Syaikh al-Albani).

Berjabat tangan disunnahkan ketika bertemu dan menegaskan ucapan salam. Disebutkan dalam al-Adabul Mufrad : Ketahuilah bahwa berjabat tangan ketika bertemu merupakan penyerta dan penegas ucapan salam dari lisan. Karena, ucapan salam adalah pemberitahuan keamanan dari ucapan sementara berjabat tangan laksana penyetujuan, pengulangan dan penegasan salam yang diucapkannya. Dengan demikian, kedua orang yang saling bertemu merasa dalam keadaan aman dari temannya masing-masing. (dinukil oleh pensyarah al-Adabul Mufrad dari kitab Faidhul Qadir (IV/412). Lihat Syarh al-Adab (II/432), cet.Al-Maktabah as-Salafiyah.

Masalah : Telah menjadi kebiasaan kaum muslimin untuk menjabat tangan imam shalat mereka atau jama’ah yang berada di samping mereka, selepas melaksanakan shalat-shalat wajib. Apakah hal ini di syari’atkan??

Jawab : Berjabat tangan selepas mengerjakan shalat-shalat wajib bukan termasuk amalan yang di syari’atkan dan sama sekali tidak pernah terjadi di zaman Nabi, Khulafa’urRasyidin dan tidak juga di zaman para Shahabat beliau yang mulia. Dan mengamalkannya termasuk mengada-ada dalam Islam yang tidak dibolehkan oleh Allah.

Lajnah Da’imah di dalam salah satu fatwanya menyatakan : Apabila seseorang tidak memiliki kesempatan berjabat tangan dengan orang lain sebelum mengerjakan shalat, lalu ia ingin menjabat tangannya setelah salam, baik setelah shalat wajib atau sunnah, baik yang berada di kanan atau kirinya, akan tetapi jika dilakukan setelah mengerjakan shalat wajib, maka hendaklah ia melakukannya setelah membaca dzikir-dzikir yang disyari’atkan setelah shalat. Adapun salam makmum kepada imam setelah shalat, kami tidak mengetahui adanya nash (dalil) khusus yang menerangkannya. (Fatwa no.3866 (VII/122)).

Faidah : Diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad :

عن سلمة بن وردان قال : (رأيت أنس ابن مالك يسلم على الناس, فسألني من أنت؟ فقلت : مولى لبنتي ليث, فسمح على رأسي ثلاثا وقال : (بارك الله فيه). (رواه البخاري)

Dari Salamah bin Wardan, ia mengatakan : Aku telah melihat Anas bin Malik mengucapkan salam kepada kaum muslimin, lalu ia bertanya kepadaku, siapa engkau?? Aku menjawab : Maula Bani Laits. Lalu ia mengusap kepalaku seraya mengatakan : Barakallahu fiik (mudah-mudahan Allah memberkahimu). (no.966). (Al-Bukhari memberinya bab Mushafahatush Shibyan. Syaikh al-Albani mengatakan : Sanad-sanadnya hasan.)

Beberapa atsar di atas menunjukkan disunnahkannya mengucapkan salam kepada anak-anak dan menjabat tangan mereka di mana hal tersebut menunjukkan kasih sayang dan perhatian terhadap mereka, serta membiasakan mereka dengan perbuatan baik. Dan, mengusap kepala anak kecil seperti yang dilakukan oleh Anas menunjukkan kecintaan dan kasih sayangnya terhadap anak-anak.

2. Diharamkan Berjabat Tangan Dengan Wanita Yang Bukan Mahram

Diharamkannya hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam kitab shahih beliau,

عن عائشة- أم المؤمنين رضي الله عنها وعن أبيها في مبايعة المهاجرات- قالت : (…فَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَقْرَرْنَ بِذَلِكَ مِنْ قَوْلِهِنَّ قَالَ لَهُنَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ انْطَلِقْنَ فَقَدْ بَايَعْتُكُنَّ لَا وَاللَّهِ مَا مَسَّتْ يَدُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدَ امْرَأَةٍ قَطُّ غَيْرَ أَنَّهُ بَايَعَهُنَّ بِالْكَلَامِ وَاللَّهِ مَا أَخَذَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى النِّسَاءِ إِلَّا بِمَا أَمَرَهُ اللَّهُ يَقُولُ لَهُنَّ إِذَا أَخَذَ عَلَيْهِنَّ قَدْ بَايَعْتُكُنَّ كَلَامًا (رواه البخاري)

Dari Aisyah (Ummul Mukminin dan dari ayahnya) tentang pembai’atan wanita-wanita Muhajirin, ia berkata : ….. Dan Rasulullah di saat mereka (wanita-wanita tersebut) membenarkan hal itu degan perkataan mereka, Rasulullah bersabda kepada mereka : “Pergilah, sesungguhnya aku telah membai’at kalian dengan ungkapan ikrar.” Demi Allah, tidaklah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berbuat sesuatu pun atas kaum wanita kecuali dengan sesuatu yang telah diperintahkan Allah. Bila beliau mengambil Bai’at dari mereka, maka beliau akan berkata: “Sesungguhnya aku telah memba’iat kalian dengan ungkapan kata-kata.” (no.4879).

Perkataan beliau : Aku telah membai’at kalian, dengan sekali ucapan, yaitu beliau mengucapkan kalimat itu sekali, tidak dengan menjabat tangan, sebagaimana kebiasaan beliau ketika membai’at kaum laki-laki sambil menjabat tangan mereka. Demikian yang dikatakan oleh Ibnu Hajar. (Fat-hul Bari (VIII/505)).

Dan, hadits Umaimah binti Raqiqah menguatkan hal tersebut. Di dalamnya disebutkan dengan jelas bahwa beliau menolak untuk menjabat tangan wanita. Yaitu ketika beliau membai’at kaum wanita, kami berkata :

عَنْ أُمَيْمَةَ بِنْتِ رُقَيْقَةَ أَنَّها قَالَتْ أَتَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي نِسْوَةٍ نُبَايِعُهُ فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ نُبَايِعُكَ عَلَى أَنْ لَا نُشْرِكَ بِاللَّهِ شَيْئًا وَلَا نَسْرِقَ وَلَا نَزْنِيَ وَلَا نَأْتِيَ بِبُهْتَانٍ نَفْتَرِيهِ بَيْنَ أَيْدِينَا وَأَرْجُلِنَا وَلَا نَعْصِيَكَ فِي مَعْرُوفٍ قَالَ قَالَ فِيمَا اسْتَطَعْتُنَّ وَأَطَعْتُنَّ قَالَتْ فَقُلْنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَرْحَمُ بِنَا مِنَّا بِأَنْفُسِنَا هَلُمَّ نُبَايِعُكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنِّي لَا أُصَافِحُ النِّسَاءَ إِنَّمَا قَوْلِي لِمِائَةِ امْرَأَةٍ كَقَوْلِي لِامْرَأَةٍ وَاحِدَةٍ (رواه أحمد)

dari Umaimah binti Ruqaiqah bahwa dia berkata, “Aku menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersama para wanita untuk membaiatnya. Kami katakanm “Wahai Rasulullah, kami membaiatmu untuk tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, tidak mencuri, tidak berzina, tidak berdusta yang kami ada-adakan antara tangan dan kaki kami, dan tidak durhaka terhadap tuan dalam hal yang ma’ruf.” Umaimah berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu bersabda: “Menurut kemampuan dan ketaatan kalian.” Umaimah berkata, “Kemudian kami berkata, “Allah dan Rasul-Nya lebih menyayangi kita daripada diri kita, kemarilah wahai Rasulullah, kami akan membaiatmu. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya aku tidak berjabat tangan wanita, hanyasanya perkataanku untuk seratus wanita sebagaimana perkataanku untuk satu orang wanita.” (HR.Ahmad (no.25767), at-Tirmidzi (no.1597), an-Nasa’i (no.4181), Ibnu Majah (no.2874) dan Malik dalam al-Muwaththa’ (no.1842).

faidah :  Ada sebagian kaum muslimin yang meyakini tentang dibolehkannya menjabat tangan wanita yang bukan mahram dari balik penghalang atau semisalnya. Ini adalah keyakinan yang keliru. Menjabat tangan wanita yang bukan mahram tidak dibolehkan secara mutlak.

Memang benar ada beberapa atsar yang diriwayatkan dari Nabi bahwa beliau telah membai’at kaum wanita dari balik pakaian beliau. Akan tetapi semua riwayat tersebut adalah mursal yang sebagiannya tidak bisa menguatkan sebagian lainnya untuk menolak hadits-hadits shahih yang dengan jelas menerangkan penolakan berjabat tangan dengan wanita yang bukan mahram.

Syaikh al-Albani mengatakan : dalam hal itu telah disebutkan dalam beberapa riwayat lainnya, akan tetapi semuanya mursal. Al-Hafizh telah menyebutkannya dalam al-Fath (VIII/488). Dan, tidak satupun dari riwayat tersebut yang bisa dijadikan sandaran, terlebih setelah menyelisihi riwayat yang lebih shahih…. (As-Silsilah ash-Shahihah (II/53)).

3. Disunnahkan Tidak Melepas Tangan Ketika Berjabat Tangan Hingga Orang Yang Dijabattangani Melepas Tangannya Terlebih Dahulu

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا اسْتَقْبَلَهُ الرَّجُلُ فَصَافَحَهُ لَا يَنْزِعُ يَدَهُ مِنْ يَدِهِ حَتَّى يَكُونَ الرَّجُلُ يَنْزِعُ…. (رواه الترمذي)

dari Anas bin Malik berkata: Apabila ada seseorang menemui Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam lalu berjabat tangan dengannya, beliau tidak melepaskan jabatan tangannya sampai lelaki tadi yang melepaskannya terlebih dahulu,….. (HR.at-Tirmidzi (no.2414) dan Ibnu Majah (no.3716). syaikh al-Albani menshahihkannya dengan seluruh jalan periwayatannya. Beliau berkata : Hadits tersebut Shahih dengan jalan-jalan periwayatan ini. Terlebih jalan-jalan periwayatan tersebut memiliki beberapa syahid (penguat)….” Lalu beliau menyebutkannya. As-Silsilah ash-Shahihah (no.2485)(V/635)).

Hadits tersebut menunjukkan disukainya berjabat tangan dan melamakannya dalam menggenggam tangan orang yang dijabati, namun tetap tidak boleh sampai memberatkan.

Bersambung ke poin no.4-6.

Digubah dan diringkas secara bebas oleh ustadz Abu Nida Chomsaha Shofwan, Lc., dari buku Kitabul ‘Adab karya Fuad bin Abdil Aziz asy-Syalhub.