4. Berdiri Untuk Mengucapkan Salam Kepada Seseorang Yang Datang

Berdiri menyambut seseorang terbagi menjadi tiga bentuk :

Pertama : Berdiri untuk pemimpin yang merupakan perbuatan penguasa yang sombong.

Kedua : Berdiri kepada seseorang di saat ia datang menghampirinya. Dan, hal ini dibolehkan.

Ketiga : Berdiri ketika melihatnya, dan hukumnya masih diperselisihkan.

Adapun dalil bentuk pertama :

عَنْ جَابِرٍ قَالَ اشْتَكَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَصَلَّيْنَا وَرَاءَهُ وَهُوَ قَاعِدٌ وَأَبُو بَكْرٍ يُسْمِعُ النَّاسَ تَكْبِيرَهُ فَالْتَفَتَ إِلَيْنَا فَرَآنَا قِيَامًا فَأَشَارَ إِلَيْنَا فَقَعَدْنَا فَصَلَّيْنَا بِصَلَاتِهِ قُعُودًا فَلَمَّا سَلَّمَ قَالَ إِنْ كِدْتُمْ آنِفًا لَتَفْعَلُونَ فِعْلَ فَارِسَ وَالرُّومِ يَقُومُونَ عَلَى مُلُوكِهِمْ وَهُمْ قُعُودٌ فَلَا تَفْعَلُوا ائْتَمُّوا بِأَئِمَّتِكُمْ إِنْ صَلَّى قَائِمًا فَصَلُّوا قِيَامًا وَإِنْ صَلَّى قَاعِدًا فَصَلُّوا قُعُودًا. (رواه مسلم)

dari Jabir dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengaduh, lalu kita shalat di belakangnya, sedangkan beliau dalam keadaan duduk, dan Abu Bakar memperdengarkan takbirnya kepada manusia. Lalu beliau menoleh kepada kami, maka beliau melihat kami shalat dalam keadaan berdiri. Lalu beliau memberi isyarat kepada kami untuk duduk, lalu kami shalat dengan mengikuti shalatnya dalam keadaan duduk. Ketika beliau mengucapkan salam, maka beliau bersabda, ‘ kalian baru saja hampir melakukan perbuatan kaum Persia dan Rumawi, mereka berdiri di hadapan raja mereka, sedangkan mereka dalam keadaan duduk, maka janganlah kalian melakukannya. Berimamlah dengan imam kalian. Jika dia shalat dalam keadaan berdiri, maka shalatlah kalian dalam keadaan berdiri, dan jika dia shalat dalam keadaan duduk, maka kalian shalatlah dalam keadaan duduk’.” (HR.Muslim (no.624)).

Berdiri dengan tujuan seperti ini adalah perbuatan terlarang tanpa diragukan lagi. Dan, hadits di atas dengan sangat jelasnya menunjukkan dilarangnya orang-orang berdiri menghormati para pembesar mereka, atau orang yang mereka agungkan. Dan, ini termasuk perbuatan para penguasa yang sombong.

Kecuali jika memang hal itu diperlukan ; misalnya jika khawatir terhadap seseorang yang kemungkinan akan berbuat semena-mena kepadanya, maka ia boleh berdiri menghormatinya. Demikian pula jika seseorang berdiri untuk memuliakan orang lain di saat yang memang ditujukan untuk memuliakan orang tersebut. Dan dibolehkan juga jika ditujukan untuk merendahkan musuh, seperti yang terjadi dengan al-Mughirah bin Syu’bah dalam peristiwa perdamaian Hudaibiyah. Ketika itu orang-orang Quraisy mengirim utusan untuk mengajak Nabi berunding dengan mereka. Al-Mughirah bin Syu’bah saat itu berdiri di dekat kepala Rasulullah dan di tangannya terhunus sebilah pedang sebagai ungkapan pengagungan terhadap Rasulullah dan penghinaan kepada utusan orang-orang kafir Quraisy tersebut. Demikian yang dikatakan oleh Syaikh Ibnu ‘Utsaimin. (Syarh Riyadhish Shalihin (I/260), Darul Wathan cet.I, th.1415 H).

Dalil Bentuk Kedua :

ما رواه مالك في موطأه في قصة إسلام عكرمة ابن أبي جهل – وفيه – : (…فَأَسْلَمَ وَقَدِمَ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَامَ الْفَتْحِ فَلَمَّا رَآهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَثَبَ إِلَيْهِ فَرِحًا وَمَا عَلَيْهِ رِدَاءٌ حَتَّى بَايَعَهُ… الحديث) (رواه مالك)

Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Malik dalam Muwaththa’ nya tentang kisah masuk Islamnya Ikrimah bin Abi Jahal. Dalam hadits itu disebutkan : …. Lalu ia memeluk Islam dan mengunjungi Rasulullah pada tahun penaklukkan kota Makkah. Ketika Rasulullah melihatnya, beliau melompat ke arahnya karena gembira dan menanggalkan selendang beliau sehingga beliau pun membai’atnya…. (Al-Hadits).  (At-Tamhid (XII/52)).

وسبق ذكر قصة توبة كعب وفيه قيام طلحة له مهنئًا. قال : …(دَخَلْتُ الْمَسْجِدَ فَإِذَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَالِسٌ فَقَامَ إِلَيَّ طَلْحَةُ بْنُ عُبَيْدِ اللَّهِ يُهَرْوِلُ حَتَّى صَافَحَنِي وَهَنَّأَنِي. (رواه أبوداود)

Telah dikemukakan juga kisah taubatnya Ka’ab yang didalamnya disebutkan bahwa Thalhah berdiri menyambutnya untuk mengucapkan selamat. Ia mengatakan : …. aku memasuki masjid, ternyata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sedang duduk. Kemudian Thalhah berdiri untuk menyambutku dengan berlari-lari kecil, hingga ia menyalami dan mengucapkan selamat kepadaku. (Al-Bukhari meriwayatkan secara mu’allaq dalam shahihnya kitab al-Isti’zan, bab al-Mushafahah. Dan hadits ini diriwayatkan secara maushul oleh beliau dalam kisah Ka’ab, kitab al-Maghazi (no.4418)).

Dalil Bentuk Ketiga (yang diperselisihkan oleh ulama, yaitu berdiri ketika melihat seseorang) :

المتنازع فيه وهو القيام عند الرؤية – : حديث أبي ملجز قال : أن معاوية خرج وعبد الله بن عامر وعبد الله بن الزبير قعود, فقام ابن عامر وقعد ابن الزبير – وكان أرزنها – قال معاوية: قال النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُمْثَلَ لَهُ عِبَادُ اللهِ قِيَامًا فَلْيَتَبَوَّأْ بَيْتًا فِيْ النَّارِ . (رواه البخاري)

Disebutkan dalam hadits Abu Miljaz, ia mengatakan bahwa suatu saat Mu’awiyah keluar sementara ‘Abdullah bin ‘Amr ‘Abdullah bin az-Zubair sedang duduk. Lalu Ibnu ‘Amir berdiri sementara Ibnu Zubair tetap duduk (dan ia termasuk orang yang paling tenang di antara keudnya), Muawiyah berkata : Nabi bersabda : Barangsiapa yang menyukai hamba-hamba Allah berdiri menghormatinya maka hendaklah ia mnenyiapkan rumahnya dari api neraka. (HR.Al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad (no.977). Syaikh al-Albani mengatakan : Shahih).

Dan dalam lafazh Abu Dawud disebutkan :

عَنْ أَبِي مِجْلَزٍ قَالَ خَرَجَ مُعَاوِيَةُ عَلَى ابْنِ الزُّبَيْرِ وَابْنِ عَامِرٍ فَقَامَ ابْنُ عَامِرٍ وَجَلَسَ ابْنُ الزُّبَيْرِ فَقَالَ مُعَاوِيَةُ لِابْنِ عَامِرٍ اجْلِسْ فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ أَحَبَّ أَنْ يَمْثُلَ لَهُ الرِّجَالُ قِيَامًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ . (رواه أبوداود)

dari Abu Miljaz ia berkata, “Mu’awiyah pergi menemui Ibnu Az Zubair dan Ibnu Amir, Ibnu Amir lalu berdiri sementara Ibnu Az Zubair tetap duduk. Mu’awiyah lalu berkata kepada Ibnu Amir, “Duduklah, aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa senang melihat orang lain berdiri karenanya, maka hendaklah ia menempati tempat duduknya di neraka.” (Sunan Abi Dawud (no.4552). syaikh al-Albani mengatakan : Shahih.

Kesimpulan tentang masalah ini, Ibnu Taimiyah telah meringkasnya, beliau mengatakan : Dan berdiri setiap kali melihat Nabi seperti yang banyak dilakukan oleh kaum muslimin (untuk pemimpin atau tokoh mereka) bukanlah merupakan kebiasaan ulama salaf di zaman Nabi dan para Khulafa’ur Rasyidin. Bahkan, Anas bin Malik mengatakan :

لم يكن شخص أحب إليهم من النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, وكانوا إذا رأوه لم يقوموا له, لما يعلمون من كراهيته لذلك. (رواه البخاري)

Tidak ada seorang pun yang lebih dicintai oleh para shahabat selain Nabi. Dan, apabila mereka melihat beliau, mereka tidak berdiri untuk menyambutnya, karena mereka tahu bahwa Nabi membencinya. (HR.Al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad (no.946). Dengan sedikit perbedaan dalam lafaz-lafaznya. Syaikh al-Albani mengatakan : Shahih).

Akan tetapi mereka terkadang berdiri menyambut seseorang yang datang setelah lama tidak berjumpa untuk menunjukkan sambutan kepadanya, sebagimana yang diriwayatkan dari Nabi bahwa beliau beridir untuk menyambut Ikrimah. Dan, beliau bersabda kepada kaum Anshar ketika Sa’ad bin Mu’adz datang :

قُومُوا إِلَى سَيِّدِكُمْ. (رواه البخاري)

Berdirilah kalian untuk menyambut pemimpin kalian. (HR.Al-Bukhari (no.6262)).

Dan, ketika itu ia baru kembali setelah memutuskan hukum bagi Bani Quraidzah yang mereka hanya mau menerima keputusannya.

Yang seharusnya dilakukan oleh kaum muslimin adalah berittiba’ (meneladani) para ulama salaf sebagai suatu kebiasaan, meneladani setiap apa yang mereka lakukan di zaman Rasulullah, karena sesungguhnya mereka adalah sebaik-baik masa, dan sebaik-baik perkataan adalah Kalamullah, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad. Maka, seseorang tidak boleh berpaling dari petunjuk sebaik-baik manusia dan berpaling dari petunjuk sebaik-baik masa kepada petunjuk selainnya.

Dan, seharusnya juga seseorang yang ditaati tidak membenarkan apa yang dilakukan oleh para pengikutnya. Yaitu ketika mereka melihatnya, hendklah mereka tidak berdiri menyambutnya kecuali pada pertemuan yang biasa. Adapun berdiri menyambut seseorang yang baru datang dari bepergian dan yang semisal dengannya sebagai ungkapan selamat datang, maka perbuatan tersebut merupakan suatu hal yang baik.

Dan, jika kebiasaan kaum muslimin adalah memuliakan seseorang yang datang dengan berdiri, yang seandainya kebiasaan ini ditinggalkan maka akan diyakini bahwa hal itu akan meninggalkan haknya atau ingin merendahkannya, dan ia tidak mengetahui kebiasaan yang sesuai dengan Sunnah, maka yang lebih baik adalah ikut berdiri menyambutnya. Dikarenakan dengan hal ini akan terjalin hubungan baik antara keduanya serta menghilangkan kebencian dan ketidak senangan. Adapun jika kebiasaan suatu kaum sesuai dengan Sunnah, maka meninggalkan hal itu bukan merupakan sesuatu yang menyakitinya. (Majmu’ al-Fatawa (I/374-375)).

Ibnu Hajar mengatakan : Kesimpulannya, di saat meninggalkan berdiri dianggap sebagai suatu penghinaan atau akan menimbulkan keburukan bagi dirinya maka janganlah ia melakukannya. Dan, pendapat inilah yang tersirat dari pernyataan Ibnu ‘Abdis Salam. (Fat-hul Bari (XI/56)).

5. Apakah Seseorang Dibolehkan Mencium Seorang Lainnya Ketika Bertemu??

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ الرَّجُلُ مِنَّا يَلْقَى أَخَاهُ أَوْ صَدِيقَهُ أَيَنْحَنِي لَهُ قَالَ لَا قَالَ أَفَيَلْتَزِمُهُ وَيُقَبِّلُهُ قَالَ لَا قَالَ أَفَيَأْخُذُ بِيَدِهِ وَيُصَافِحُهُ قَالَ نَعَمْ. (رواه الترمذي)

dari Anas bin Malik ia berkata; Seseorang bertanya; “Wahai Rasulullah, apakah kami harus menundukkan kepala apabila salah seorang dari kami bertemu dengan saudaranya atau sahabatnya?” beliau menjawab: “Tidak.” Ia bertanya; “Apakah dia harus mendekap dan menciumnya?” beliau menjawab: “Tidak.” Orang itu bertanya lagi; “Apakah harus meraih tangannya dan menjabatnya?” beliau menjawab: “Ya.” (HR.At-Tirmidzi (no.2652), Ibnu Majah (no.3702) dan selain keduanya. Syaikh al-Albani mencantumkannya dalam Silsilah ash-Shahihah (no.160)(I/248)).

Hadits diatas sangat jelas menunjukkan larangan tahni’ dan mencium ketika bertemu dalam pertemuan yang biasa. Akan tetapi, tidak berarti dilarang berdekapan kanan dan kiri ketika bertemu seseorang yang datang dari perjalanan atau lama tidak bertemu.

وشاهدنا في ذلك فعل جابر بن عبد الله, فعن جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّهُ بَلَغَنِي حَدِيثٌ عَنْ رَجُلٍ سَمِعَهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَاشْتَرَيْتُ بَعِيرًا ثُمَّ شَدَدْتُ عَلَيْهِ رَحْلِي فَسِرْتُ إِلَيْهِ شَهْرًا حَتَّى قَدِمْتُ عَلَيْهِ الشَّامَ فَإِذَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أُنَيْسٍ فَقُلْتُ لِلْبَوَّابِ قُلْ لَهُ جَابِرٌ عَلَى الْبَابِ فَقَالَ ابْنُ عَبْدِ اللَّهِ قُلْتُ نَعَمْ فَخَرَجَ يَطَأُ ثَوْبَهُ فَاعْتَنَقَنِي وَاعْتَنَقْتُهُ فَقُلْتُ حَدِيثًا بَلَغَنِي عَنْكَ أَنَّكَ سَمِعْتَهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْقِصَاصِ فَخَشِيتُ أَنْ تَمُوتَ أَوْ أَمُوتَ قَبْلَ أَنْ أَسْمَعَهُ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ يُحْشَرُ النَّاسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَوْ قَالَ الْعِبَادُ عُرَاةً غُرْلًا بُهْمًا قَالَ قُلْنَا وَمَا بُهْمًا قَالَ لَيْسَ مَعَهُمْ شَيْءٌ ثُمَّ يُنَادِيهِمْ بِصَوْتٍ يَسْمَعُهُ مِنْ قُرْبٍ أَنَا الْمَلِكُ أَنَا الدَّيَّانُ وَلَا يَنْبَغِي لِأَحَدٍ مِنْ أَهْلِ النَّارِ أَنْ يَدْخُلَ النَّارَ وَلَهُ عِنْدَ أَحَدٍ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَقٌّ حَتَّى أَقُصَّهُ مِنْهُ وَلَا يَنْبَغِي لِأَحَدٍ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ أَنْ يَدْخُلَ الْجَنَّةَ وَلِأَحَدٍ مِنْ أَهْلِ النَّارِ عِنْدَهُ حَقٌّ حَتَّى أَقُصَّهُ مِنْهُ حَتَّى اللَّطْمَةُ قَالَ قُلْنَا كَيْفَ وَإِنَّا إِنَّمَا نَأْتِي اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ عُرَاةً غُرْلًا بُهْمًا قَالَ بِالْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ. (رواه أحمد)

Yang kami jadikan dalil adalah perbuatan Jabir bin ‘Abdillah; telah sampai hadis kepadaku dari seorang laki-laki yang mendengar dari Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam, kontan saya membeli unta, kuikat kencang perbekalanku dan kuarahkan perjalananku untuk menemuinya selama satu bulan. Selanjutnya aku menemuinya tepatnya di Syam, tak tahunya orang itu adalah Abdullah bin Unais. Saya berkata kepada penjaga pintu, “Katakan padanya, Jabir sedang menunggunya di di depan pintu”. Lalu dia bertanya, kamu adalah Ibnu Abdullah, saya menjawab, Ya. Lalu dia keluar dengan menginjak pakaiannya, dia memelukku dan sebaliknya aku juga memeluknya, saya berkata; telah sampai kepadaku suatu hadis darimu, kamu mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam tentang perkara qishas, saya khawatir apabila engkau meninggal ataupun saya meninggal sebelum saya dapat mendengarnya. (Abdullah bin Unais) berkata; saya mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam bersabda: “Manusia akan dikumpulkan pada Hari Kiamat”, –atau bersabda dengan redaksi para hamba–, dalam keadaan telanjang, tidak berkhitan dan dalam keadaan buhman”, lalu kami bertanya, “Apakah buhman itu?” Beliau bersabda: “Tidak memakai pakaian sehelai benangpun”, lalu ada suara yang memanggil mereka dari dekat, ‘Aku adalah raja dan Aku Dayyan (pemberi pembalasan) tidaklah patut bagi seorang penduduk neraka untuk masuk neraka sedangkan dia mempunyai hak atas seseorang dari penduduk surga sampai Aku memberikan haknya. Juga tidaklah patut seseorang dari penduduk surga untuk masuk syurga sedangkan seseorang dari penduduk nereka mempunyai hak atas dirinya sampai Aku memberikan haknya. Sampai satu tamparan sekalipun. (Jabir bin Abdullah) berkata; kami bertanya, Bagaimana ini? Kami mendatangi Allah Azzawajalla dalam keadaan telanjang dan tidak berkhitan, dan tidak memakai sehelai benangpun? maka beliau bersabda: “Kalian datang dengan kebaikan dan keburukan”. (HR.Al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad (no.970). Syaikh al-Albani mengatakan : Hasan. Ibnu Hajar menisbatkan hadits ini kepada riwayat Ahmad (no.15464), Abu Ya’la dan al-Bukhari di dalam al-Adabul Mufrad. (Fat-hul Bari (I/209)).

FAIDAH : Ciuman seorang ayah terhadap anaknya merupakan bentuk kesempurnaan kasih sayang dan kecintaannya. Nabi juga pernah mencium anak-anak beliau, mencium al-Hasan dan al-Husain, dan Abu Bakar mencium anak perempuannya, Aisyah, dan hal ini adalah kabar-kabar yang masyhur. Kemashurannya telah mencukupi bagi kita tentang takhrij silsilahnya hingga pada sumbernya.

FAIDAH LAIN : Adapun mencium tangan, ada sebagian ulama yang membolehkannya, sesuai tata cara beraama. Al-Marwadzi berkata : Aku bertanya kepada Abu Abdillah tentang mencium tangan, beliau menjawab : Jika sesuai dengan tata cara beragama maka tidak mengapa. Abu Ubaidah pun pernah mencium Umar bin al-Khaththab. Jika disesuaikan dengan tata cara keduniaan, maka ia tidak dibolehkan, kecuali seseorang yang takut akan pedang atau cambuknya. …… Abdullah bin Ahmad berkata : Aku melihat banyak dari kalangan ulama ahli fiqih, ahli hadits, Bani Hasyim, Quraisy dan kaum Anshar, mereka menciumnya (yakni ayahnya) sebagian mencium tangannya dan sebagian lagi mencium kepalanya. (Al-Adab karya Ibnu Muflih (I/247).

Dan sebagian ulama lain memakruhkan mencium tangan dan mereka menyebutnya as-Sajdah ash-Shughra. Adapun kebid’ahan yang masyarakat lakukan dengan sengaja mengulurkan tangannya kepada orang lain agar ia menciumnya dan meniatkan untuk hal seperti itu, maka perbuatan ini tidak disangkal bagi siapa saja. Lain halnya jika yang mencium itu adalah orang yang mengada-adakan hal tersebut. (Al-Adab (II/248)).

6. Haramnya Membungkuk Dan Sujud Di Saat Memberi Salam

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ الرَّجُلُ مِنَّا يَلْقَى أَخَاهُ أَوْ صَدِيقَهُ أَيَنْحَنِي لَهُ قَالَ لَا قَالَ أَفَيَلْتَزِمُهُ وَيُقَبِّلُهُ قَالَ لَا قَالَ أَفَيَأْخُذُ بِيَدِهِ وَيُصَافِحُهُ قَالَ نَعَمْ. (رواه الترمذي)

dari Anas bin Malik ia berkata; Seseorang bertanya; “Wahai Rasulullah, apakah kami harus menundukkan kepala apabila salah seorang dari kami bertemu dengan saudaranya atau sahabatnya?” beliau menjawab: “Tidak.” Ia bertanya; “Apakah dia harus mendekap dan menciumnya?” beliau menjawab: “Tidak.” Orang itu bertanya lagi; “Apakah harus meraih tangannya dan menjabatnya?” beliau menjawab: “Ya.” (HR.At-Tirmidzi (no.2652), Ibnu Majah (no.3702) dan selain keduanya. Syaikh al-Albani mencantumkannya dalam Silsilah ash-Shahihah (no.160)(I/248)).

Hadits ini sangat jelas menunjukkan pelarangan, dan tidak satu pun dalil yang memalingkannya. Dengan demikian hadits ini menunjukkan keharamannya. Tidak dibolehkan membungkuk kepada seorang makhluk pun, selamanya, karena perbuatan tersebut tidak layak dilakukan kecuali kepada al-Khaliq terlebih lagi dengan sujud.

Ibnu Taimiyah mengatakan : Adapun membungkuk ketika memberi salam adalah perbuatan yang dilarang. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dari Nabi bahwa mereka (para shahabat) bertanya kepada beliau tentang seorang yang bertemu dengan saudaranya lalu ia membungkuk kepadanya. Beliau bersabda : Tidak boleh. Juga karena ruku’ dan sujud tidak boleh dilakukan kecuali hanya kepada Allah.

Adapun sujud, seorang yang berakal tidak boleh merasa ragu untuk menunjukkannya hanya kepada Allah, tidak kepada selain-Nya. Dan, dalam perbuatan ini terkandung makna ‘ubudiyah (penghambaan), tidak seperti ketika membungkukkan badan. Karena, ketika membungkukkan badan, di dalamnya tidak terkandung posisi yang mencakup seluruh makna penghinaan diri, kerendahan, ketundukan, dan ‘ubudiyah sebagaimana yang terkandung dalam sujud. Oleh karena itu diriwayatkan dalam hadits dari Ibnu Abbas, dari Rasulullah, beliau bersabda :

وَأَمَّا السُّجُودُ فَاجْتَهِدُوا فِي الدُّعَاءِ فَقَمِنٌ أَنْ يُسْتَجَابَ لَكُمْ. (رواه مسلم)

….sedangkan sujud, maka berusahalah bersungguh-sungguh dalam doa, sehingga layak dikabulkan untukmu’.” (HR.Muslim (no.738), Ahmad (no.1903), an-Nasa’i (no.1045), Abu Dawud (no.876), Ibnu Majah (no.3899) dan ad-Darimi (no.1325)).

Sabda beliau : Pantas (layak), artinya sesuatu yang hakiki dan layak untuk mendapatkan pengabulan doa. Karena, dalam sujud terkandung makna pengagungan yang apabila dipalingkan kepada selain Allah, maka ia merupakan perbuatan yang diharamkan.

Dan dalil yang menunjukkannya adalah :

لَمَّا قَدِمَ مُعَاذٌ مِنْ الشَّامِ سَجَدَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ (مَا هَذَا يَا مُعَاذُ؟) قَالَ: أَتَيْتُ الشَّامَ فَوَافَقْتُهُمْ يَسْجُدُونَ لِأَسَاقِفَتِهِمْ وَبَطَارِقَتِهِمْ فَوَدِدْتُ فِي نَفْسِي أَنْ نَفْعَلَ ذَلِكَ بِكَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (فَلَا تَفْعَلُوا فَإِنِّي لَوْ كُنْتُ آمِرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لِغَيْرِ اللَّهِ لَأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَا تُؤَدِّي الْمَرْأَةُ حَقَّ رَبِّهَا حَتَّى تُؤَدِّيَ حَقَّ زَوْجِهَا وَلَوْ سَأَلَهَا نَفْسَهَا وَهِيَ عَلَى قَتَبٍ لَمْ تَمْنَعْهُ). (رواه ابن ماجة)

“Tatkala Mu’adz datang dari Syam, ia bersujud kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam hingga beliau bersabda: “Apa-apaan ini ya Mu’adz! Mu’adz menjawab, “Aku pernah mendatangi Syam, aku mendapatkan mereka sujud kepada para uskup dan komandan mereka. Maka, aku ingin melakukannya terhadapmu.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah kalian melakukannya, kalau saja aku diperbolehkan memerintahkan seseorang untuk bersujud kepada selain Allah, niscaya aku akan perintahkan seorang isteri bersujud kepada suaminya. Demi Dzat yang jiwa Muhammad di Tangan-Nya, sungguh seorang isteri itu tidak dikatakan menunaikan hak Rabb-nya hingga ia menunaikan hak suaminya. Kalau saja suami memintanya untuk dilayani, sementara ia sedang berada di atas pelana kendaraan, maka ia tidak boleh menolaknya.” (HR.Ahmad (no.18913), Ibnu Majah (no.1843) dan lafazh hadits diatas adalah lafazh riwayat beliau. Syaikh al-Albani mengatakan : Hasan Shaih. (no.1515)).

(SELESAI)…….

Digubah dan diringkas secara bebas oleh ustadz Abu Nida Chomsaha Shofwan, Lc., dari buku Kitabul ‘Adab karya Fuad bin Abdil Aziz asy-Syalhub.