8. Keutamaan Duduk Di Masjid

Di antara hadits yang menunjukkan keutamaan duduk di masjid dan menunggu didirikannya shalat adalah sabda beliau :

…فَإِذَا دَخَلَ الْمَسْجِدَ كَانَ فِي الصَّلَاةِ مَا كَانَتْ الصَّلَاةُ هِيَ تَحْبِسُهُ وَالْمَلَائِكَةُ يُصَلُّونَ عَلَى أَحَدِكُمْ مَا دَامَ فِي مَجْلِسِهِ الَّذِي صَلَّى فِيهِ يَقُولُونَ اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ اللَّهُمَّ تُبْ عَلَيْهِ مَا لَمْ يُؤْذِ فِيهِ مَا لَمْ يُحْدِثْ فِيهِ. (رواه البخاري)

…..jika ia telah masuk masjid, maka ia dihitung dalam shalat selama ia tertahan oleh shalat, dan malaikat terus mendoakan salah seorang diantara kalian selama ia dalam majlisnya yang ia pergunakan untuk shalat, malaikat akan berdoa; “Ya Allah, rahmatilah dia, Ya Allah, ampunilah dia, Ya Allah maafkanlah dia, ” selama ia tidak melakukan gangguan dan belum berhadats.” (HR.Al-Bukhari (no.176), Muslim (no.1059), dan lafazh hadits diatas adalah lafazh riwayat muslim, Ahmad (no.7382), Abu Dawud (no.559), dan Malik (no.382)).

Catatan Penting : Sebagian besar kaum muslimin melalaikan waktu yang utama (waktu menanti shalat antara adzan dan iqamat). Kita akan dapati mereka melemparkan pandangan kepada orang-orang yang mengerjakan shalat atau membaca al-Qur’an.

Catatan Penting Lainnya : Imam shalat adalah bagian dari suatu kepemimpinan, maka seorang imam haruslah berlemah lembut kepada para makmum, tidak memberatkan mereka dengan setiap perbuatan yang menyusahkan.

Diriwayatkan dari :

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ سَمِعْتُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ فِي بَيْتِي هَذَا اللَّهُمَّ مَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِمْ فَاشْقُقْ عَلَيْهِ وَمَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَرَفَقَ بِهِمْ فَارْفُقْ بِهِ (رواه مسلم)

dari Aisyah ia berkata, aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau berdo’a ketika berada di rumahku ini: “Ya Allah, siapa yang menjabat suatu jabatan dalam pemerintahan ummatku lalu dia mempersulit urusan mereka, maka persulitlah dia. Dan siapa yang menjabat suatu jabatan dalam pemerintahan ummatku lalu dia berusaha menolong mereka, maka tolong pulalah dia.”(HR. Muslim (no.3407) dan Ahmad (no.24101)).

Sementara yang terjadi, sebagian imam shalat (semoga Allah memberi mereka taufik) memberatkan para jama’ah, baik disadari atau tidak. Mereka mengakhirkan iqamat shalat dan menghalangi para jama’ah dari pekerjaan dan keperluan mereka. Dan seseorang yang hendak mengerjakan shalat sementara ia memiliki keperluan, maka ia tidak ingin pekerjaan shalatnya diakhirkan, ia akan terbentur dengan perasaan yang berat, apakah ia shalat sendiri atau menungu imam ini??

9. Bolehnya Tidur Terlentang Di Masjid

Dibolehkan tidur terlentang di masid. Karena Rasulullah juga pernah tidur terlentang di masjid dengan meletakkan salah satu kaki beliau di atas kaki lainnya.

Diriwayatkan dari :

عَنْ  عبد الله بن زيد بن عاصم قال : أَنَّهُ رَأَى رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُسْتَلْقِيًا فِي الْمَسْجِدِ وَاضِعًا إِحْدَى رِجْلَيْهِ عَلَى الْأُخْرَى وَعَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ قَالَ كَانَ عُمَرُ وَعُثْمَانُ يَفْعَلَانِ ذَلِكَ. (رواه البخاري)

Dari Abdullah bin Zaid bin Ashim : bahwa dia melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berbaring di dalam masjid dengan meletakkan satu kakinya di atas kaki yang lain.” Dan dari Ibnu Syihab dari Sa’id bin Al Musayyab berkata, “‘Umar dan ‘Utsman juga melakukan hal serupa.” (HR.Al-Bukhari (no.455), Muslim (no.2100), at-Tirmidzi (no.3765), an-Nasa’i (no.721), Abu Dawud (no.4866), Ahmad (no.15995), Malik (no.418) dan ad-Darimi (no.2656)).

Akan tetapi haruslah terjaga agar auratnya tidak tersingkap, karena meletakkan salah satu kaki di atas kaki lainnya sangat memungkinkan tersingkapnya aurat, dan siapa yang mungkin bisa menjaganya, maka hal tersebut tidak terlarang baginya.

Faidah : Sebagian orang merasa keberatan dengan menjulurkan kaki mereka ke arah kiblat sebagai bentuk wara’ mereka. Akan tetapi perasaan berat ini tidak pada tempatnya. Karena siapa saja yang menjulurkan kakinya atau kedua kakinya ke arah kiblat di masjid atau di luar masjid, maka ia tidaklah berdosa. (Lihat Fatawa al-Lajnah ad-Da’imah lil Buhuts al-‘Ilmiyyah wal Ifta’ (VI/292)(no.5795).

Peringatan : Wajib menjaga agar tidak menjulurkan kaki ke arah mush-haf, (karena biasanya mush-haf diletakkan di arah kiblat masjid di hadapan orang-orang yang mengerjakan shalat), sebagai adab dan pengagungan terhadap Kalamullah.

10. bolehnya tidur di masjid

Dibolehkan tidur di masjid bagi siapa yang membutuhkannya. Para Ash-habush Shuffah telah melakukannya di masjid. (HR.Al-Bukhari no.442).

Ash-habush Shuffah : {Mereka adalah para fakir miskin yang menetap di masjid Rasulullah dan makan serta tidur di dalamnya}.

Ibnu Umar juga pernah tidur di masjid sebelum beliau berkeluarga. Diriwayatkan dari :

عَنْ نَافِعٌ قَالَ أَخْبَرَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ أَنَّهُ كَانَ يَنَامُ وَهُوَ شَابٌّ أَعْزَبُ لَا أَهْلَ لَهُ فِي مَسْجِدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. (رواه البخاري)

dari Nafi’ berkata, telah mengabarkan kepadaku ‘Abdullah bin ‘Umar, bahwa ia pernah tidur di masjid Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam saat dia masih pemuda lajang dan belum punya keluarga.” (HR.Al-Bukhari (no.421)).

11. Larangan Berjual Beli Di Dalam Masjid

Diriwayatkan dari :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا رَأَيْتُمْ مَنْ يَبِيعُ أَوْ يَبْتَاعُ فِي الْمَسْجِدِ فَقُولُوا لَا أَرْبَحَ اللَّهُ تِجَارَتَكَ…. (رواه الترمذي)

dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika kalian melihat orang menjual atau membeli di dalam masjid, maka katakanlah; Semoga Allah tidak memberi keuntungan kepada barang daganganmu.…….’ (HR.At-Tirmidzi (no.1242) dan ia berkata : Hadits ini Hasan Gharib, dan sebagian ulama membenci jual beli di dalam masjid. Inilah pendapat Ahmad dan Ishaq. Dan sebagian ulama ada yang memberi rukshah untuk melakukan jual beli di dalam masjid. Diriwayatkan juga oleh Ad-Darimi (no.1401)).

Catatan Penting : Seputar jual beli di ruangan-ruangan atau teras yang termasuk area masjid atau aula yang hanya dikhususkan untuk shalat, Lajnah Da’imah berpendapat, tidak dibolehkan melakukan jual beli dan mengumumkan barang hilang di aula yang khusus digunakan untuk shalat apabila tempat tersebut termasuk bagian dari masjid. Nabi bersabda : …….

Lalu Lajnah Da’imah melanjutkan : Adapun ruangan-ruangan, maka haruslah dirinci : Apabila ruangan tersebut masuk ke dalam denah masjid maka ruangan itu tergolong ke dalam hukum masjid, dan penjabarannya sama dengan penjabaran aula (teras) masjid. Adapun jika ruangan tersebut di luar denah masjid, walaupun pintunya bersatu dengan masjid maka hukumnya tidak termasuk hukum masjid, karena pintu rumah Nabi yang didiami oleh ‘Aisyah berada di dalam masjid, dan hukumnya tidak menyatu dengan hukum masjid. (VI/283)(no.11967).

12. Larangan Mengumumkan Barang Hilang Di Masjid

Yaitu mengumumkan dan menanyakan barang hilang. (Lisanul ‘Arab (II/421)), topik : نشد.

Diriwayatkan :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ سَمِعَ رَجُلًا يَنْشُدُ ضَالَّةً فِي الْمَسْجِدِ فَلْيَقُلْ لَا رَدَّهَا اللَّهُ عَلَيْكَ فَإِنَّ الْمَسَاجِدَ لَمْ تُبْنَ لِهَذَا. (رواه مسلم)

dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu berkata, “Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam bersabda, ‘Barangsiapa yang mendengar seseorang mengumumkan barang hilang di masjid, hendaklah dia mendoakan, ‘Semoga Allah tidak mengembalikannya kepadamu, karena masjid bukan dibangun untuk ini’.”

وعند أحمد : لَا أَدَّاهَا اللَّهُ عَلَيْكَ. (رواه أحمد)

وعند الدارمي: لَا أَدَّى اللَّهُ عَلَيْكَ. (رواه الدارمي)

(HR. Muslim (no.880) ,Ahmad (no.8233,9079), dengan dua lafazh seluruhnya, at-Tirmidzi (no.1321), Abu Dawud (no.473), Ibnu Majah (no.77), dan Ad-Darimi  (no.1365)).

13. Mengeraskan Suara Di Dalam Masjid

Diriwayatkan dari Ka’ab :

عَنْ كَعْبٍ بْنِ مَالِكٍ أَنَّهُ تَقَاضَى ابْنَ أَبِي حَدْرَدٍ دَيْنًا كَانَ لَهُ عَلَيْهِ فِي الْمَسْجِدِ فَارْتَفَعَتْ أَصْوَاتُهُمَا حَتَّى سَمِعَهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ فِي بَيْتِهِ فَخَرَجَ إِلَيْهِمَا حَتَّى كَشَفَ سِجْفَ حُجْرَتِهِ فَنَادَى يَا كَعْبُ قَالَ لَبَّيْكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ ضَعْ مِنْ دَيْنِكَ هَذَا وَأَوْمَأَ إِلَيْهِ أَيْ الشَّطْرَ قَالَ لَقَدْ فَعَلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ قُمْ فَاقْضِهِ. (رواه البخاري)

dari Ka’b bin Malik, bahwa ia pernah menagih hutang kepada Ibnu Abu Hadrad di dalam Masjid hingga suara keduanya meninggi yang akhirnya didengar oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang berada di rumah. Beliau kemudian keluar menemui keduanya sambil menyingkap kain gorden kamarnya, beliau bersabda: “Wahai Ka’b!” Ka’b bin Malik menjawab: “Wahai Rasulullah, aku penuhi panggilanmu.” Beliau bersabda: “Bebaskanlah hutangmu ini.” Beliau lalu memberi isyarat untuk membebaskan setengahnya. Ka’b bin Malik menjawab, “Sudah aku lakukan wahai Rasulullah.” Beliau lalu bersabda (kepada Ibnu Abu Hadrad): “Sekarang berdiri dan bayarlah.” (HR.Al-Bukhari (no.437), dan lafazh hadits diatas adalah lafazh riwayat al-Bukhari, Muslim (no.1558), Ahmad (no.15364), an-Nasa’i (no.5402),  Abu Dawud (no.3595), Ibnu Majah (no.2429), dan Ad-Darimi  (no.2857)).

عَنْ السَّائِبِ بْنِ يَزِيدَ قَالَ كُنْتُ قَائِمًا فِي الْمَسْجِدِ فَحَصَبَنِي رَجُلٌ فَنَظَرْتُ فَإِذَا عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ فَقَالَ اذْهَبْ فَأْتِنِي بِهَذَيْنِ فَجِئْتُهُ بِهِمَا قَالَ مَنْ أَنْتُمَا أَوْ مِنْ أَيْنَ أَنْتُمَا قَالَا مِنْ أَهْلِ الطَّائِفِ قَالَ لَوْ كُنْتُمَا مِنْ أَهْلِ الْبَلَدِ لَأَوْجَعْتُكُمَا تَرْفَعَانِ أَصْوَاتَكُمَا فِي مَسْجِدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. (رواه البخاري)

dari As Sa’ib bin Yazid berkata, “Ketika aku berdiri di dalam masjid tiba-tiba ada seseorang melempar aku dengan kerikil, dan ternyata setelah aku perhatikan orang itu adalah ‘ Umar bin Al Khaththab. Dia berkata, “Pergi dan bawalah dua orang ini kepadaku.” Maka aku datang dengan membawa dua orang yang dimaksud, Umar lalu bertanya, “Siapa kalian berdua?” Atau “Dari mana asalnya kalian berdua?” Keduanya menjawab, “Kami berasal dari Tha’if” ‘Umar bin Al Khaththab pun berkata, “Sekiranya kalian dari penduduk sini maka aku akan hukum kalian berdua! Sebab kalian telah meninggikan suara di Masjid Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” (HR.Al-Bukhari (no.437)).

Abu Dawud meriwayatkan dalam Sunannya :

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي بَكْرٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَلْ مِنْكُمْ أَحَدٌ أَطْعَمَ الْيَوْمَ مِسْكِينًا فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ دَخَلْتُ الْمَسْجِدَ فَإِذَا أَنَا بِسَائِلٍ يَسْأَلُ فَوَجَدْتُ كِسْرَةَ خُبْزٍ فِي يَدِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ فَأَخَذْتُهَا مِنْهُ فَدَفَعْتُهَا إِلَيْهِ. (رواه أبو داود)

dari Abdurrahman bin Abu Bakr, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya: “Apakah diantara kalian pada hari ini ada orang yang telah memberi makan seorang miskin?” Abu Bakr radliallahu ‘anhu menjawab; saya masuk masjid, dan ternyata saya mendapati seorang miskin yang sedang meminta-minta dan aku dapati sepotong roti ditangan Abdurrahman, maka aku mengambilnya dan aku berikan kepada orang miskin tersebut. (HR. Abu Dawud (no.1422)).

Al-Mundziri mengatakan : Muslim meriwayatkan dalam Shahihnya, an-Nasa’i dalam Sunannya dari hadits Abu Hazim Salman al-Asyja’i serupa dengan hadits diatas.

Hadits ini menunjukkan bolehnya bershadaqah di dalam masjid dan bolehnya meminta di saat sangat butuh. Adapun jika permintaan tersebut bukan merupakan suatu keperluan yang mendesak atau suatu kedustaan kepada manusia dari apa yang disebutkannya tentang keadaannya, atau hingga mendatangkan mudharat dari permintaannya tersebut, maka ia tidak boleh mengajukan permintaannya. (VI/285-286).

14. Bolehnya Membicarakan Perkara-Perkara Dunia Yang Mubah Di Dalam Masjid

Diriwayatkan dari :

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ أُقِيمَتْ الصَّلَاةُ وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُنَاجِي رَجُلًا فِي جَانِبِ الْمَسْجِدِ فَمَا قَامَ إِلَى الصَّلَاةِ حَتَّى نَامَ الْقَوْمُ. (رواه البخاري)

dari Anas bin Malik berkata, “Pada suatu hari ketika iqamat sudah dibacakan, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam masih berbicara dengan seseorang di sisi masjid. Beliau belum juga melaksanakan shalat hingga sebagian para sahabat tertidur.” (HR.Al-Bukhari (no.606), dan lafazh hadits diatas adalah lafazh riwayat al-Bukhari, Muslim (no.376), Ahmad (no.11576), at-Tirmidzi (no.518), an-Nasa’i (no.791),  dan Abu Dawud (no.201)).

عَنْ سِمَاكِ بْنِ حَرْبٍ قَالَ قُلْتُ لِجَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ أَكُنْتَ تُجَالِسُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ نَعَمْ كَثِيرًا كَانَ لَا يَقُومُ مِنْ مُصَلَّاهُ الَّذِي يُصَلِّي فِيهِ الصُّبْحَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ فَإِذَا طَلَعَتْ قَامَ وَكَانُوا يَتَحَدَّثُونَ فَيَأْخُذُونَ فِي أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ فَيَضْحَكُونَ وَيَتَبَسَّمُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. (رواه مسلم)

dari Simak bin Harb dia berkata; ‘Aku bertanya kepada Jabir bin Samurah; “Pernahkah kamu duduk bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?” Jawab Jabir; “Bahkan sering. Beliau biasanya belum berdiri dari tempat shalat (di mana beliau shalat) shubuh, sebelum terbit matahari. Apabila matahari telah terbit barulah beliau berdiri. Selama duduk-duduk itu, para sahabat ada yang bercakap-cakap membicarakan urusan masa jahiliyah, lalu mereka tertawa, sedangkan beliau hanya tersenyum.” (HR.Muslim (no.4286), Ahmad (no.20333),dan an-Nasa’i (no.1358)).

Akan tetapi ketika berbincang-bincang seputar keduniaan di dalam masjid diharuskan memerhatikan beberapa perkara :

Pertama : Jangan sampai mengganggu orang-orang yang sedang mengerjakan shalat, membaca al-Qur’an, atau orang-orang yang menyibukkan diri dengan ilmu.

Kedua : Tidak menjadikannya sebagai kebiasaan.

Ketiga : Menjaga jangan sampai mengucapkan perkataan atau melakukan perbuatan yang diharamkan.

Keempat : Pembicarannya mesti sedikit, tidak boleh banyak.

Bersambung ke poin no.15-21.

Digubah dan diringkas secara bebas oleh ustadz Abu Nida Chomsaha Shofwan, Lc., dari buku Kitabul ‘Adab karya Fuad bin Abdil Aziz asy-Syalhub.