6. Dimakruhkan Tidur Dengan Tengkurap

Diriwayatkan :

عن طخفة الغفاري أنه كان من أصحاب الصفة, قال : بينَا أَنَا نَائِمٌ فِي الْمَسْجِدِ من آخر الليل, أتاني آت وأنا نائم على بطني فحركني برجله فقال : قم هَذِهِ ضِجْعَةٌ يَبْغُضُهَا اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى فرفعتُ رأسي فإذا بالنبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قائم على رأسي.(رواه أحمد)

Dari Thakhfah al-Ghifari, salah seorang di antara Ash-habush Shuffah (para shahabat yang tinggal di Masjid Nabawi), ia berkata : Ketika aku tidur dimasjid pada akhir malam, ada seseorang mendatangiku sedangkan aku tidur dengan posisi tengkurap. Kemudian ia menggerakkanku dengan kakinya dan berkata : Bangunlah, ini adalah posisi tidur yang dimurkai Allah. Kemudian aku mengangkat kepalaku, dan ternyata orang tersebut adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang sedang berdiri di dekat kepalaku.  (HR.Al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad (no.1187) dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani (no.905), Ibnu Majah (no.3723), dan lafazh ini menurut riwayat Ahmad (no.14993), at-Tirmidzi (no.2768) dari Abu Hurairah).

Dalam riwayat Ibnu Majah disebutkan :

عَنْ قَيْسِ بْنِ طِخْفَةَ الْغِفَارِيِّ عَنْ أَبِيهِ قَالَ أَصَابَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَائِمًا فِي الْمَسْجِدِ عَلَى بَطْنِي فَرَكَضَنِي بِرِجْلِهِ وَقَالَ مَا لَكَ وَلِهَذَا النَّوْمِ هَذِهِ نَوْمَةٌ يَكْرَهُهَا اللَّهُ أَوْ يُبْغِضُهَا اللَّهُ. (رواه ابن ماجة)

dari Qais bin Thihfah Al Ghifari dari ayahnya dia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mendapatiku tidur di atas perutku (telungkup) di Masjid, maka beliau membangunkaku dengan kedua kakinya sambil bersabda: “Kenapa kamu seperti ini? Ini adalah cara tidur yang di benci Allah atau tidak di sukai Allah.”  

Hadits ini jelas merupakan larangan tidur dengan tengkurap. Dan Allah sangat membencinya, dan setiap perbuatan yang Allah benci maka jauhilah. Adapun sebab dibencinya tidur tengkurap ini diterangkan dalam hadits :

عَنْ ابْنِ طِخْفَةَ الْغِفَارِيِّ عَنْ أَبِي ذَرٍّ قَالَ مَرَّ بِيَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَا مُضْطَجِعٌ عَلَى بَطْنِي فَرَكَضَنِي بِرِجْلِهِ وَقَالَ يَا جُنَيْدِبُ إِنَّمَا هَذِهِ ضِجْعَةُ أَهْلِ النَّارِ.(رواه ابن ماجة)

dari Ibnu Thihfah Al Ghifari dari Abu Dzar dia berkata; “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah melewatiku yang sedang berbaring diatas perutku (tidur telungkup), maka beliau mendorongku dengan kakinya sambil bersabda: “Wahai Junaidib, ini adalah cara berbaringnya penghuni neraka.” (HR. Ibnu Majah (no.3714), dan di shahihkan oleh Syaikh al-Albani (no.3017)).

7. Makruhnya Tidur Di Teras Rumah (Di Atasnya) Tanpa Adanya Pembatas

Hal ini diterangkan dalam hadits yang diriwayatkan dari :

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَلِيٍّ يَعْنِي ابْنَ شَيْبَانَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ بَاتَ عَلَى ظَهْرِ بَيْتٍ لَيْسَ لَهُ حِجَارٌ فَقَدْ بَرِئَتْ مِنْهُ الذِّمَّةُ. (رواه أبو داود)

dari ‘Abdurrahman bin Ali -yaitu Ibnu Syaiban- dari Bapaknya ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa tidur di atas rumah yang tidak dipasang penghalang, maka tidak ada lagi tanggungan untukku.” (HR. Abu Dawud (no.4384).

tidak dipasang penghalang : { Dalam satu riwayat disebutkan dengan lafazh : لَيْسَ لَهُ حِجَارٌ : Tanpa batu pembatas makna semuanya sama, yaitu penutup atau pembatas. Seperti tembok pembatas maupun selainnya yang bisa mencegahnya terjatuh. Lihat Syarh al-Adabil Mufrad (II/601). }

dalam riwayat Ahmad disebutkan :

حَدَّثَنِي رَجُلٌ أَنَّ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ بَاتَ فَوْقَ إِجَّارٍ أَوْ فَوْقَ بَيْتٍ لَيْسَ حَوْلَهُ شَيْءٌ يَرُدُّ رِجْلَهُ فَقَدْ بَرِئَتْ مِنْهُ الذِّمَّةُ وَمَنْ رَكِبَ الْبَحْرَ بَعْدَ مَا يَرْتَجُّ فَقَدْ بَرِئَتْ مِنْهُ الذِّمَّةُ .(رواه أحمد)

telah menceritakan kepadaku seorang laki-laki bahwa Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Barangsiapa bermalam di atap rumah atau loteng tanpa ada sesuatu yang dapat menghalangi dari kakinya (pagar), kemudian dirinya terjerembab lalu mati, maka lepaslah tanggungan darinya, dan barangsiapa mengarungi lautan bergelombang (ombaknya menggulung) kemudian mati, maka terlepaslah tanggungan darinya.” (HR.Al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad (no.1192) dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani (no.908), Ahmad (no.19822), dan Abu Dawud (no.5041)).

Maka siapa saja yang melalaikannya setelah diberi kesempatan untuk mengupayakannya maka dia tidak berada dalam penjagaan Allah. Jika dia tertimpa musibah maka dia tidak mendapat ganjaran / pahala, dan jika meninggal dia pun tidak tergolong mati syahid. Bahkan sangat dikhawatirkan dia bisa tergolong sebagai orang yang mati bunuh diri. (Syarh al-Adabul Mufrad (I/601)).

8. Do’a-Do’a Ketika Bangun Dari Tidur

Disyari’atkan ketika bangun dari tidur untuk berdo’a dan membaca ayat-ayat al-Qur’an.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُرَيْدَةَ الْأَسْلَمِيِّ عَنْ أَبِيهِ قَالَ سَمِعَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلًا يَدْعُو وَهُوَ يَقُولُ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ بِأَنِّي أَشْهَدُ أَنَّكَ أَنْتَ اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ الْأَحَدُ الصَّمَدُ الَّذِي لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ قَالَ فَقَالَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَقَدْ سَأَلَ اللَّهَ بِاسْمِهِ الْأَعْظَمِ الَّذِي إِذَا دُعِيَ بِهِ أَجَابَ وَإِذَا سُئِلَ بِهِ أَعْطَى. (رواه الترمذي)

dari Abdullah bin Buraidah Al Aslami dari ayahnya, ia berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mendengar orang yang berdoa dengan mengatakan; ALLAAHUMMA INNII AS-ALUKA BIANNII ASYHADU ANNAKA ANTALLAAHU LAA ILAAHA ILLAA ANTA, Al AHADUSH SHAMAD, ALLADZII LAM YALID WA LAM YUULAD WA LAM YAKUN LAHU KUFUWAN AHAD (Ya Allah, aku memohon kepadaMu dengan bersaksi bahwa Engkau adalah Allah, tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau, Yang Maha Esa, Tempat bergantung, Yang tidak melahirkan dan tidak dilahirkan, dan tidak ada sesuatupun yang serupa denganNya). Kemudian beliau mengatakan: “Demi Dzat yang jiwaku ada di tanganNya, sungguh ia telah meminta dengan namaNya yang paling agung, yang apabila Dia dimintai suatu doa maka Dia akan mengabulkan dan apabila diminta dengannya maka Dia akan memberi.”

عَنْ سَعْدٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَعْوَةُ ذِي النُّونِ إِذْ دَعَا وَهُوَ فِي بَطْنِ الْحُوتِ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنْ الظَّالِمِينَ فَإِنَّهُ لَمْ يَدْعُ بِهَا رَجُلٌ مُسْلِمٌ فِي شَيْءٍ قَطُّ إِلَّا اسْتَجَابَ اللَّهُ لَهُ. (رواه الترمذي)

dari Sa’d ia berkata; Rasulullah shallallahu wa’alaihi wa sallam bersabda: “Doa Dzun Nuun (Nabi Yunus) ketika ia berdoa dalam perut ikan paus adalah; LAA ILAAHA ILLAA ANTA SUBHAANAKA INNII KUNTU MINAZH ZHAALIMIIN (Tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk diantara orang-orang yang berbuat aniaya). Sesungguhnya tidaklah seorang muslim berdoa dengannya dalam suatu masalah melainkan Allah kabulkan baginya.”

عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ تَعَارَّ مِنْ اللَّيْلِ فَقَالَ حِينَ يَسْتَيْقِظُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ ثُمَّ دَعَا رَبِّ اغْفِرْ لِي قَالَ الْوَلِيدُ أَوْ قَالَ دَعَا اسْتُجِيبَ لَهُ فَإِنْ قَامَ فَتَوَضَّأَ ثُمَّ صَلَّى قُبِلَتْ صَلَاتُهُ. (رواه أبو داود)

dari Ubadah bin Ash Shamit ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa terbangun di malam hari dan ketika bangun ia membaca: “LAA ILAAHA ILLAAHU WAHDAHU LAA SYARIIKALAH LAHUL MULKU WALAHUL HAMDU WAHUWA ‘ALAA KULLI SYAI`IN QADIIR, SUBHAANALLAAHI WAL HAMDULILLAHI WA LAA ILAAHA ILLAAHU WAALLAHU AKBAR WA LAA HAULA WA LAA QUWWATA ILLA BILLAHI (Tidak ada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya, milik-Nya semua kerajaan dan bagi-Nya semua pujian. Dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Maha Suci Allah, segala puji hanya milik Allah, tidak ada Ilah (Tuhan yang wajib diibadahi) selain Allah, Allah Maha Besar, tidak ada daya dan kekuatan melainkan hanya dengan Allah). Kemudian berdoa RABBIGHFIRLII (Ya Allah ampunilah aku) -Al Walid menyebutkan- Atau beliau mengatakan, “Lalu berdoa maka doanya akan diterima. Jika ia berdiri wudhu lalu shalat, maka shalatnya akan diterima.” (HR. Abu Dawud (no.4401).

Membaca Do’a :

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُورُ

“Al Hamdulillahilladzii ahyaana ba’da maa amatana wailaihi nusyur (Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah mematikan kami, dan kepada-Nya lah tempat kembali).”

Diriwayatkan dari :

عَنْ حُذَيْفَةَ بْنِ الْيَمَانِ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَوَى إِلَى فِرَاشِهِ قَالَ بِاسْمِكَ أَمُوتُ وَأَحْيَا وَإِذَا قَامَ قَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُورُ. (رواه البخاري)

dari Hudzaifah bin Yaman dia berkata; “Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam hendak tidur, beliau mengucapkan: ‘Bismika amuutu wa ahya (Dengan nama-Mu aku mati dan aku hidup).’ Dan apabila bangun tidur, beliau mengucapkan: “Al Hamdulillahilladzii ahyaana ba’da maa amatana wailaihi nusyur (Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah mematikan kami, dan kepada-Nya lah tempat kembali).”(HR. Al-Bukhari (no.5837), Ahmad (no.22760), at-Tirmidzi (no.3339) dengan lafazh :

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَحْيَا نَفْسِي بَعْدَ مَا أَمَاتَهَا وَإِلَيْهِ النُّشُورُ. (رواه الترمذي)

“ALHAMDULILLAAHILLADZII AHYAA NAFSII BA’DA MAA AMAATAHAA WA ILAIHIN NUSYUUR.” (Segala puji bagi Allah Yang telah menghidupkan diriku setelah mematikannya, dan kepadanya kami dikumpulkan),  (Abu Dawud (no.5049), Ibnu Majah (no.3880) dan ad-Darimi (no.2686)).

SELESAI……

Digubah dan diringkas secara bebas oleh ustadz Abu Nida Chomsaha Shofwan, Lc., dari buku Kitabul ‘Adab karya Fuad bin Abdil Aziz asy-Syalhub.